//
you're reading...
Wacana

BUKAN BASA BASI

perkutut DKIdot com SANG LEGENDA

BUKAN BASA BASI

Sukses Bukan Basa Basi di arena konkurs memang bukan baru pertama kali ini diraih. Namun keberhasilannya meraih juara I dalam konkurs akbar P3SI ini benar – benar fantasis. Pasalnya, hingga babak ketiga penilaian berlangsung. Bukan Basa Basi belum memperlihatkan penampilannya yang istimewa. Karena itu tidak mengherankan jika diawal lomba perhatian dewan juri lebih tertuju dilapangan tengah yang ditempati burung – burung juara seperti Susi Susanti yang terkenal jago manggung. Baru pada babak keempatlah Bukan Basa Basi mulai menunjukkan kelasnya.

Riuh – rendah para pendukung Bukan Basa Basi pun semakin menjadi ketika sang idola makin sering memperdengarkan kemerduan suaranya. Perkutut yang kurang diunggulkan diawal lomba itu pun berhasil meredam nama – nama besar pesaingnya seperti Leo Samiadji, Thalia, Yuliana, dan Terlena II. Bahkan Susi Susanti pun terpuruk jauh keluar dari 30 besar juara. Wartawan Trubus, Fendy.R.Paimin yang meliput kegiatan itu melaporkan jalannya konkurs berikut ini.

Konkurs Terbesar
Sejak pagi hari, suasana di sekitar lapangan Babatan Wiyung di Surabaya mulai terlihat ramai. Ratusan kendaraan pemilik perkutut peserta lomba dan panitia satu per satu mulai memenuhi areal parkir yang ada di sekitar arena konkurs. Masyarakat sekitar arena dan para pedagang asongan pun berbondong – bondong mendatangi tanah kosong seluas kurang lebih 1,5 ha itu. Tak heran bila Jalan Raya Wiyung yang biasanya lancar lalu – lintasnya, pagi itu tampak macet oleh lalu lalang para penggemar perkutut. Dilapangan pun 378 buah kerekan telah berjajar rapi terbagi dalam 9 blok . Sementara jago – jago nasional telah berada dipuncak tiang – tiang kerekan itu, siap untuk unjuk suara.

Menurut R. Soemarjoto, Sekretaris Jenderal P3SI disela- sela acara Kongres Nasional P3SI yang berlangsung di Hotel Natour Simpang, Surabaya, acara itu menjadi konkurs resmi terbesar sepanjang sejarah konkurs perkutut di tanah air. “ Dalam konkurs sebelumnya paling banyak hanya disediakan 8 blok kerekan saja.” jelas Soemarjoto. Menurutnya panitia menyiapkan 378 gantangan karena melihat antusiasme para peggemar untuk mengikuti lomba kali ini. Lebih dari 350 gantangan telah terisi oleh para peserta. Padahal menurut Soemarjoto, biasanya 300 gantangan saja yang terjual sudah bagus.

Dari sisi kualitas peserta konkurs ini pun boleh dibilang sangat sukses menggaet peserta. Diikuti oleh jago – jago nasional seperti Susi Susanti, Thalia, Yuliana, Leo Samiaji, Terlena II, dan Bukan Basa Basi. Selain para juara itu, konkurs diramaikan peserta – peserta dari luar Jawa. Diantaranya Formula dan Sutra Ungu dari Palembang, Ayu Mandastana dari Banjarmasin dan wakil dari Balikpapan dan Sumatera Barat.

Lepas Burung
Tampilnya wakil dari cabang – cabang P3SI diluar Jawa menurut Soemarjoto adalah pertanda baik bagi masa depan organisasi. “ Satu bukti bahwa hobi perkutut kini mulai menyebar hingga keluar Jawa, “ jelasnya. Walaupun diakuinya penggemar itu mungkin masih orang – orang Jawa juga yang hidup di perantauan. Namun setidaknya perkutut sebagai burung asli Indonesia mulai dikenal masyarakat luar Jawa. Apalagi saat ini menurut  Soemarjoto, P3SI telah dibentuk di 16 propinsi dan 63 daerah tingkat dua di Indonesia. Dengan demikian upaya pengembangan dan pelestarian perkutut akan lebih berhasil.

Dalam rangka melestarikan keberadaan perkutut di alam, P3SI berkesempatan melepas 36 ekor perkutut diawal konkurs. Drs.H. Sukamdi Suwendar yang terpilih kembali menjadi Ketua Umum P3SI dalam Kongres yang berlangsung sehari sebelumnya mendapat kesempatan pertama melepas perkutut, diikuti para pengurus dan penggemar lainnya. Menurut Soemarjoto, kegiatan ini telah berlangsung sejak tahun 1970 – an. Apalagi setelah Menteri KLH mengeluarkan surat keputusannya tentang upaya pelestarian perkutut, P3SI melakukan pelepasan pada setiap acara konkurs.

“ Burung yang dilepas adalah burung lokal yang lebih tahan hidup di alam bebas Indonesia, “ papar Soemarjoto. Burung – burung itu merupakan hasil tangkaran para penggemar perkutut yang bergabung dalam P3SI. Sekjen P3SI ini berpendapat, adanya para penangkar penggemar perkutut telah sangat membantu P3SI dalam melaksanakan programnya, termasuk program pelestarian.

Pelepasan burung itu memang dilakukan di arena konkurs sehingga kemungkinan burung yang dilepas langsung ditangkap penduduk sekitarnya bisa juga terjadi. “ Namun paling tidak, kita telah mencoba menanamkan sikap sebagai pelestari burung perkutut di kalangan penggemarnya,” tegas Soemarjoto. Bila sikap itu telah membudaya, bukan tidak mungkin P3SI akan mencari tempat yang lebih pas sebagai habitat perkutut yntuk pelepasan perkutut, seperti yang pernah dilakukan P3SI beberapa waktu lalu di Sukoharjo.

Unjuk Suara
Kejurnas P3SI yang digelar berkaitan dengan adanya Kongres Nasional P3SI benar – benar berlangsung seru. Sejak peluit lomba dibunyikan, para juri telah sibuk mondar – mandir di lapangan, melangkah dari satu gantangan ke gantangan lain. Perkutut menggung satu persatu mulai memperdengarkan suara emasnya. Tak berapa lama bendera – bendera yang menandai penilaian mulai bertebaran di bawah tiang – tiang gantangan. Penonton yang mengelilingi arena konkurs pun mulai aktif meneriakkan nomor – nomor gantangan yang diketahui sedang “ on “. Namun hingga babak pertama berakhir, belum banyak bendera terpancang di bawah tiang – tiang gantangan.

Suasana baru makin ramai pada babak kedua. Jago – jago manggung yang berbalas – balasan memperdengarkan suara mereka memaksa dewan juri untuk bekerja ekstra hati – hati dan mempertajam kepekaan pendengarannya. Suara – suara penonton makin ramai menjagokan idola mereka. Tak jarang para juri yang merasa terganggu oleh ulah para “ bonek “ ini mengangkat tangan ke hadapan penonton sebagai isyarat untuk tenang. Pemandu juri pun makin repot berkeliaran di antara tiang – tiang gantangan untuk menandai burung yang sedang gocor.

Hingga babak kedua berakhir belum ada perkutut yang benar – benar menonjol, melejit meninggalkan saingan – saingannya dalam mengumpulkan angka. Bendera yang menandai penilaian boleh dibilang tersebar merata diantara para favorit juara. Bahkan di babak ketiga pun keadaan hampir tidak berubah. Seakan bersahut – sahutan dalam melantunkan suara mereka, para jago manggung benar – benar membuat para juri kerepotan, bolak balik dari satu gantangan ke gantangan lain untuk menentukan nilai. Suasana di lapangan benar – benar sangat mendebarkan hingga babak ketiga berakhir. Sebagian besar penonton masih sulit menduga peserta yang bakal tampil sebagai juara.

Melejit
Memasuki babak keempat ketegangan demi ketegangan makin terlihat diwajah para pemilik perkutut. Pasalnya, babak ini merupakan babak penilaian dan ini merupakan kesempatan terakhir bagi peserta untuk unjuk prestasi dan meraih angka tertinggi dalam lomba. Namun hingga 15 menit babak keempat berlalu, hampir tidak ada perkutut yang benar – benar gocor. Saat – saat paling mendebarkan itu masih terus dirasakan penonton. Tak satu pun penonton  yang diam terpaku di tempatnya. Tak jarang ada penonton yang berteriak di pinggir lapangan untuk mempengaruhi juri. Masing – masing penonton menghendaki agar perkutut idola mereka diperhatikan “ lebih “. Belum lagi petugas mendatangi nomor gantangan yang satu, penonton lain telah berteriak menyebut lain nomor. Suasana benar – benar menegangkan. Apalagi waktu terus bergulir hingga mendekati saat lomba berakhir.

Di saat – saat mendebarkan itu, perkutut di Blok I tiba – tiba angkat suara. Sorak – sorai penonton di kubu Chung BF pun meledak. “ Tiga lima – lima … tiga lima – lima…” teriak seorang pendukung menunjuk gantangan dimaksud. Bendera langsung ditancapkan petugas di bawah gantangan 355.

Seakan tak peduli dengan riuh suara penonton, Bukan Basa Basi terus melantunkan bunyi “ klauw..ketek – ketek..kung ” sampai berkali – kali. Beberapa juri yang semula sibuk di lapangan tengah pun segara menuju Blok I untuk memastikan merdu suara Bukan Basa Basi diiringi puluhan atau mungkin ratusan pasang mata penonton. Malahan saking penasarannya penonton, mereka pun ikut menyerbu ke pinggir garis pembatas arena konkurs. Perkutut yang semula kurang diperhitungkan, kini menjadi bintang. Tepuk tangan penonton pun sontak terdengat begitu petugas menancapkan bendera terakhir dalam lomba tersebut. Bukan Basa Basi benar – benar melejit diakhir lomba meninggalkan saingan – saingannya dan dinobatkan sebagai Juara Nasional. Dan bendera lomba telah berakhir, Bukan Basa Basi tetap melantunkan kemerduan suaranya. Mungkin  saja dia sedang mendendangkan lagu “ bukan …..basa basi “, menirukan sebuah lagu dalam iklan rokok di layar kaca.

sumber : majalah trubus, oktober 1997

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: