//
you're reading...
Hobby dan Lomba

CARA MENYUSUN URUTAN PEMENANG LOMBA PERKUTUT

hasil kejuaraan

Kembali perkutut dki dot com mengulas mengenai hasil lomba, atau tepatnya cara mengetahui bagaimana tugas juri dan perumus melakukan rekapitulasi dan menyusun urutan pemenang di dalam lomba perkutut. Mengingat hal ini sangat penting, sebab Buat apa kita ikut berlomba jika kita tidak mengetahui tata cara penilaian, apapun jenis lomba yang kita ikuti.

Gambar di atas merupakan hasil kejuaraan di putaran LPI Gunung Jati cup 2012 Cirebon pada kelas dewasa junior.

Jika kita perhatikan, untuk nomor kerekan / gantangan 179 dengan nomor 241 memperoleh nilai akhir yang sama, namun mengapa pada urutan kejuaraan, nomor gantangan 241 ( juara 7 ) lebih unggul daripada nomor 179 ( juara 8 ) yang notabene mendapatkan nilai 3 warna ( 43 ½ ) terlebih dahulu pada babak pertama (satu).

Sebelumnya perlu dipahami bahwa total nilai yang digunakan disini merupakan penjumlahan antara suara depan, tengah, ujung, irama dan dasar suara yang dibuat juri pada lembaran nilai.

Berikut ilustrasi perumusan atas kedua perkutut lomba tersebut :

 

GANTANGAN

BABAK 1

BABAK 2

BABAK 3

BABAK 4

JUARA

179

43 ½

43 ¼ 43 ½ 43 ½ 8

241

43 ¼ 43 ½ 43 ½ 43 ½

7

note :   nilai 43 ½  ( atau tiga warna) dan nilai )  43 ¼  ( dua warna plus hitam) berbeda letak di babak pertama dan kedua.

Untuk selanjutnya dilakukan perbandingan unsur suara, dengan cara pengaduan pertama pada dasar suara, selanjutnya irama, ujung, tengah dan teakhir suara depan.

 

GANTANGAN

DEPAN

TENGAH

UJUNG

IRAMA

DASAR SUARA

TOTALNILAI

BABAK 1

 

 

 

 

 

 

179

9

8 ¾

8 ¾

8 ½

8 ½

43 ½

241

8 ¾

8 ¾

8. ¾

8 ½

8 ½

43 ¼

 

 

 

 

 

 

 

BABAK 2

 

 

 

 

 

 

179

9

8 ¾

8 ½

8 ½

8 ½

43 ¼

241

8 ¾

8 ¾

9

8 ½

8 ½

43 ½

 

 

 

 

 

 

 

BABAK 3

 

 

 

 

 

 

179

9

8 ¾

8 ¾

8 ½

8 ½

43 ½

241

8 ¾

8 ¾

9

8 ½

8 ½

43 ½

 

 

 

 

 

 

 

BABAK 4

 

 

 

 

 

 

179

9

8 ¾

8 ¾

8 ½

8 ½

43 ½

241

8 ¾

8 ¾

9

8 ½

8 ½

43 ½

Membandingkan / mengadu nilai / kualitas unsur bunyi 

BABAK      

DASAR SUARA

IRAMA

UJUNG

TENGAH

DEPAN

1 s/d 4

DRAW

DRAW

241 MENANG pd Babak  ke 2

   

Dengan demikian tidak ada yang salah di dalam urutan kejuaraan untuk kedua perkutut tersebut 

JIKA KONDISI NILAI BERBEDA

walaupun pada babak ke tiga untuk nomor gantangan 179 katakan mendapatkan nilai ujung 9 dan sebaliknya nomor gantangan 241 memperoleh ujung 8 ¾ , tetap hasil akhir untuk urutan kejuaraan dimenangkan oleh perkutut dengan nomor gantangan 241, karena memiliki nilai ujung yang lebih baik dalam perolehan diawal pengaduan (babak dua).

 

CONTOH   :    EMPAT WARNA DENGAN TIGA WARNA PLUS

Berikut ini contoh tidak selalu perkutut jawara dengan nilai 44 (4 warna) unggul dari perkutut dengan nilai 43 ¾  ( 3 warna plus hitam ) .

GANTANGAN

     BABAK 1    

   BABAK 2   

   BABAK 3   

    BABAK 4   

1

43 ¾

43 ¼

43

43 ½

2

43 ½

43

43 ¼

44

3

44

43

43 ¼

43 ½

4

43 ½

43 ¾

43

43 ¾

5

44

43 ½

43 ¼

43

6

44

43 ½

43 ¼

43

 

 

GANT  

2 BABAK

TERBAIK

jumlah

SEREP

 

 

1

87 ¼

 

 

 

 

2

87 ½

bbk 4 dan 1

43 ¼

bbk 3

draw

3

87 ½

bbk 1 dan 4

43 ¼

bbk 3

draw

4

87 ½

bbk 2 dan 4

43 ½

bbk 1

juara 1

5

87 ½

bbk 1 dan 2

43 ¼

bbk 3

draw

6

87 ½

bbk 1 dan 2

43 ¼

bbk 3

draw

Khusus untuk nomor gantangan 1 (satu) sudah pasti menempati urutan ke 6, karena jumlah 2 babak terbaik lebih rendah dari yang dimiliki ke 5 perkutut lainnya. Sedangkan nomor gantangan 4 setelah dilakukan perbandingan ternyata memiliki serep (beking) nilai yang lebih unggul yaitu 43 ½  . Untuk selanjutnya, perkutut dengan nomor gantangan 2, 3, 5 dan 6  karena memiliki serep yang sama yaitu 43 ¼  maka akan dilakukan “pengaduan” atau membandingkan seperti pada kasus sebelumnya ( gantangan 179 dan 241), dimana akan diadu antara dasar suara, irama, ujung, tengah dan suara depan pada tiap babaknya,dengan demikian akan diperoleh urutan juara ke 2, 3, 4, 5

Cara merekapitulasi, merumus dan mengurutkan hasil lomba seperti tersebut diatas merupakan hasil kongres P3Si tahun 2005 di Bali, sedangkan penggunaan warna pada tabelisasi merupakan kreasi dari Kesumawidjaya SH  (wiwied / maestro bf ) yang merupakan perumus nasional, dengan tujuan memudahkan (sistem sort by) di dalam penyusunan urutan kejuaraan.

Jika semua perumus di seluruh wilayah menggunakan cara yang telah diputuskan bersama pada kongres Bali tahun 2005 maka kesimpangsiuran dalam hal penilaian tidak akan terjadi, demikian juga dengan tata cara kerja juri  dan perumus di dalam membuat angka-angka di dalam kertas nilai  ditulis dengan jelas, maka  para peserta dapat melihat secara mudah urutan pemenang di dalam suatu event lomba.

Berikut aturan perumusan yang tertuang di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/RT) P3SI pasal 25

1. Urutan kejuaraan didapat dari hasil perumusan nilai yang dilakukan oleh petugas perumus berdasarkan nilai nilai yang diberikan oleh juri, koordinator dan Dewan Juri.

2. Urutan kejuaraan ditentukan oleh :

a. Membandingkan jumlah nilai 2 (dua) babak terbaik.

b. Apabila jumlah nilai dua babak terbaik sama, maka dibandingkan nilai dari babak lainnya, selain nilai dari babak-babak yang sudah dibandingkan.

c. Apabila perbandingan nilai seperti yang dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan b tetap menghasilkan jumlah yang sama, maka akan ditinjau perbandingan nilai dasar suara.

d. Bila masih terjadi persamaan nilai, kemudian dibandingkan nilai irama.

e. Bila masih tetap mendapatkan perbandingan nilai yang sama, kemudian berturut-turut dibandingkan nilai suara ujung dan suara tengah serta suara depan.

f. Apabila jumlah nilai dua babak terbaik sama dan jumlah nilai dari dua babak yang lainnya juga sama maka akan ditinjau burung yang mempunyai nilai tonjolan lebih tinggi dari yang lain harus dimenangkan.

 

Untuk hal ini, mari kita bersama-sama memeriksa hasil setiap babak yang diumumkan panitia di tempel di papan pengumuman hasil lomba, agar kedepan tidak lagi terjadi protes yang tidak berdasar.

Demikian juga, agar setiap kungMania tidak segan-segan bertanya ke panitia ataupun perumus pada saat ragu atas hasil yang diperoleh perkutut juara yang kita lombakan.

Dengan demikian kita harapkan tidak ada lagi istilah “kita di akali juri atau perumus” sebelum kita mengetahui duduk persoalan yang terjadi. kungMania termasuk sangat beruntung karena telah memiliki aturan yang jelas di dalam tata cara penilaian, jika terjadi kesalahan pengisian ataupun pengurutan hasil kejuaraan, itu hanya “human error” semata, terkecuali jawara perkutut kita berbunyi  5 kali berturut-turut dengan kualitas istimewa, namun tidak mendapatkan nilai yang pantas, disitulah kita dapat mengatakan kita “diakali”  juri, dan jika hal itu terjadipun kita dapat melakukan protes ke panitia sesuai aturan yang sudah ada. Gunakan lembaran protes yang  sudah kita sepakati bersama sebaik baiknya.

Jika memang kungMania memiliki pemikiran lain dalam cara penyusunan nilai serta cara mengurutkan kejuaraan atau ada keinginan untuk menggunakan sistem komputerisasi di dalam penilaian, silahkan dibuat serta diusulkan ke P3Si Pusat. Dan tentunya semua saran harus lebih baik dari kondisi saat ini.

Semoga ulasan singkat ini dapat menjadi pembelajaran kita bersama, demi kemajuan perkutut indonesia.

Jayalah perkutut indonesia, tetap bersatu dalam naungan NKRI🙂🙂

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

13 thoughts on “CARA MENYUSUN URUTAN PEMENANG LOMBA PERKUTUT

  1. ini menurut pendapat sy lho mengkopi paste kalimat diatas “Berikut ini contoh tidak selalu perkutut jawara dengan nilai 44 (4 warna) unggul dari perkutut dengan nilai 43.75 (3 warna plus hitam)” ini msh sangat bisa diperdebatkan dan apabila dipakai pedoman akan bs menyesatkan seandainya masing-2 BP sama-2 bunyi dalam 4 babak meskipun jumlah total nilainya drow/sama. Menurut logika sj ibarat BP tersebut atlit angkat besi: BP. A (nilai max 44/4 warna)dan BP.B (max.nilai 43,75/3 warna plus hitam) diberi kesempatan yg sama mengangkat barbel sebanyak 4 kali. Maka hasilnya sdh jelas BP A yang menang karena dia bisa mengakat barbel seberat 44 Kg sedangkan BP.B hanya maksimal 43,75 Kg sj. Nah Jd menurut sy bila menghadapi kasus ini perumus tidak perlu dibanding-bandingkan jumlah 2 babak pendamping lagi krn bunyinya sama-2 4 Babak, langsung aj vonis bahwa BP.A kualitasnya lebih bagus (max nila 4 warna), kecuali BP.A tadi hanya bunyi 2 Babak saja krn tidak ada Babak pendampingnya …

    Posted by Gus Bayu | April 10, 2012, 11:50 pm
  2. Mas Admin makasih atas kesempatan menyampaikan pendapatnya:
    1.Dalam menetukan urutan kejuaraan “poin a. Membandingkan jumlah nilai 2 (dua) babak terbaik”
    ini perlu ketegasan dalam kalimatnya,yang dimaksutkan membadingkan itu jumlah nilai terbaik masing-2 1 babaknya atau jumlah 2 babak, klo memang jumlah 2 babaknya berarti perlu ada kalimat “TOTAL” jumlah 2 babak terbaik.
    Terus pengertian membandingkan itu hanya jumlahnya saja atau jumlah nilai terbaiknya?
    ini perlu ketegasan supaya tidak ada cela oleh oknum-2 dalam hal menetukan juara jangan sampai BP kualitas no 1 dikalahkan dengan BP kualiatas no 2,3 dstnya.
    Poin F nya “Apabila jumlah nilai dua babak terbaik sama dan jumlah nilai dari dua babak yang lainnya juga sama maka akan ditinjau burung yang mempunyai nilai tonjolan lebih tinggi dari yang lain harus dimenangkan” ini sifatnya sangat subyektif dan bisa dimanfaatkan oleh oknum-2 tertentu, sebab apanya lg yg dibandingkan kan semua sdh dibandingkan,
    Maksut dari Nilai tonjolan lebih tinggi itu maksutnya apa???
    Jumlah Nilai tertinggi per babaknya?
    atau nilai apanya yang menonjol???
    menurut sy lebih bagus dikembalikan lagi seperti dahulu “diundi” krn lebih demokrasi dan masing-2 tidak merasa dikalahkan.
    Makasih ..

    Posted by Gus Bayu | April 11, 2012, 10:04 am
  3. om bayu….kalau kita lihat sampel perumusan diatas tertulis no 2,3,5,6 nilai draw baik 2 babak terbaik maupun serp….apa salahnya kalau 2,3,5,6 tadi langsung ni lihat babak pertama terbaik yg lolos seleksi berikutnya, 2: 43.5, 3: 44, 5: 44, 6: 44….no 2 langsung out, lanjut ke babak ke dua: 3: 43, 5: 43.5, 5: 43.5….no 3 out,….lanjut…babak ke tiga, sisa 5 sama 6…berhubung nilai sama persis….BARU KITA KILAT PER UNSUR SUARA DARI BELAKANG SAMPAI DEPAN SEPERTI SELAMA INI BERJALAN……BILA INI DIJALANKAN TDK MUNGKIN KASUS 179 241 TERULANG….MOHON PENCERAHAN PAK PERUMUS NASIONAL….

    Posted by anang | April 13, 2012, 2:07 am
  4. BUAT LAH ATURAN PERMAINAN SESEDERHANAN MUNGKIN DAN SEFLEKSIBEL MUNGKIN, NGGAK PERLU MALU UNTUK MENGATAKAN IYA MASIH HARUS BERBENAH NIH BIAR LEBIH MAJU, SUPA KUNG MANIA NANTINYA TIDAK SEPERTI KATAK DALAM TONG…HANYA BISA BUNYI KUNG KONG KUNG KONG…TP TERTUTUP OLEH LINGKUNGAN LAINYA, LAMA2 MATI SENDIRI TUH KATAK..SAMA DGN HOBI PERKUTUT SEMAKIN KE SINI PENGHOBI MAKIN DEWASA DNA MAKIN KRITIS, TP KALAU KENDARAANYA ….TETAP MODEL LAMA YA DITINGGAL PENGHOBINYA…..BERUNTUNG RASA PERSODARAAN DIPERKUTUT MASIH CUKUP BGS…JD TIDAK SAMPAI BISA DI PECAH PIHAK KETIGA….DGN MENDIRIKAN PERKUMPULAN BARU SEPERTI DI OCEHAN…..TP SIAPA YG TAHAN KALAU SELALU TDK DIUNTUNGKAN DENGAN PENJURIAN YG LBH CONDONG MELIHAT YG PUNYA BURUNG DIBANDING MENILAI BURUNG…

    Posted by anang | April 13, 2012, 2:20 am
  5. Mas Nanang, sebenarnya ide pemberian spidol warna untuk mempermudah dan mempercepat kerja perumusan oleh Kesuma Wijaya,SH/Wiwid/Mastro BF itu bagus banget lho,harusnya dengan melihat spidol-2 warna tsb perumus sdh bs menentukan mana-2 yg masuk nominasi dan mana-2 yg harus diadu. pertanyaannnya kenapa sudah tahu ada perbedaan spidol warnanya kok masih diadu-adu lagi contoh seperti sample penilaian diatas (No.4) sdh jelas BP tsb setelah gacor tetep aj nilainya max 43,75(3 warna plus hitam/spidol coklat)dan lebih ironisnya lagi No.4 dapat JUARA I hanya karena jumlah bunyi serepnya banyakan, ini kan aneh bin ajaib, pertanyaannya ini lomba seni suara apa lomba dakon/congklak yg banyak mengisi biji dilumbung dialah yg dimenangkan.seperti yg pernah sy ilustrasi ibarat BP diumpamakan atlit angkat besi maka Gantangan NO. 4 setelah diberi kesempatan mengangkat barbel sebanyak 4 kali/babak maka No.4 hanya mampu mengangkat barbel seberat 43,75 Kg, sedangkan BP yang lain utk nilai 44 yang spidol kuning (no.2,3,5 dan 6) bisa mengangkat barbel seberat 44 Kg. Kesimpulannya bila jumlah totaln bunyi perbabaknya sama, jumlah nilai tertinggi/terbaiknya sama itulah yg diadu, utk BP N0.4 memang jumlah total sama tapi JUMLAH NILAI TERBAIK/TERTINGGINYA tidak sama seharusnya BP No.4 itu JUARA 5 bukan JUARA I. Nah yg layak juara 1 dan seterusnya adalah yang jumlah bunyi perbabak dan jumlah bunyi terbaiknya sama dan utk urutan kejuaraaan bisa dilihat/dikebet satu persatu seperti cara-2 lazimnya perumusan. Seharusnya perngurus P3SI (bukan Juri dan Perumus P3SI) yg berkompeten hendaknya membaca artikel-2 di wibe site, tabloid burung dll tentang fenomena-fenomena yg ada dilapangan dan dalam memutuskan kebijakan/regulasi yg ada di AD/ART P3SI hendaknya memihak pada yg sebenarnya yg mengutamakan fair play dalam berlomba. Demikian juga terhadap Juri dan Perumus yg dekat dengan pengurus P3SI atau yg kebetulan ditunjuk sebagai pengurus P3SI hendaknya menyampaikan masukan-masukan yg positiv demi kemajuan P3SI. Demikian semoga bermanfaat …

    Posted by Gus Bayu | April 14, 2012, 7:53 pm
  6. Saran Mas Nanang bener banget tuh dengan catatan kalao perumusnya titelnya tukang insiyur atau orang eksakta, tapi klou perumusnya orang hukum atau orang sosial apalagi seorang politik pasti beda dan akan dicari cela-2 kelemahannya kalimat perkalimat dalam pasal-2nya untuk membenarkan argumen-argumennya,he he he …

    Posted by Gus Bayu | April 14, 2012, 8:11 pm
  7. Dear Admin dan teman kung mania lainnya

    Telah terjadi kesalahan penentuan pemenang.

    Harusnya pada babak pertama yang di adu…

    Dasar suara imbang, irama imbang, ujung imbang, tengah imbang, depan….nah 179 yang menang…

    Salam

    Andy

    Posted by Andy - TKL | April 20, 2012, 11:24 am
  8. Bung Andi TKL,
    Cara mengadu nilainya, Dasar suara untuk babak 1,2,3,4, Irama, babak 1,2,3,4, ujung babak 1,2,3,4 dst
    Bila belum jelas silahkan hubungi Wiwied di 0818 254 894

    a/n Wiwied Maestro
    Terima kasih

    Posted by noe | April 20, 2012, 7:03 pm
  9. Bung Noe ysh,

    coba perhatikan lagi deh kolom penilaian pada babak ke-1
    Dasar suara : imbang
    Irama : imbang
    Ujung : imbang
    Tengah : imbang
    Depan : 179 yang menang (nilai 9) dibanding 241 (nilai 8 3/4)

    Posted by Andy - TKL | April 23, 2012, 7:55 am
  10. Bung Noe ysh,

    Oh…atau cara pengaduan nilainya yang berbeda dengan pemahaman saya yah…

    Cara pengaduan menurut bung Wiwied Maestro adalah :
    Dasar suara di adu dulu mulai babak 1 , 2, 3, 4
    jika masih draw juga : di adu iramanya mulai babak 1,2,3,4
    jika masih draw juga : diadu ujungnya mulai babak 1,2,3,4
    jika masih draw juga : diadu tengahnya mulai babak 1,2,3,4
    jikam masih draw juga : diadu depannya mulai babak 1,2,3,4

    Oh….

    Sudahkah cara pengaduan ini disosialisasikan kepada semua pelomba perkutut?

    Jika ini yang di adu…harus dipastikan pada babak pertama..Ujung harus mendapat angka 9 jika mau menang di adu…karena secara logika dasar suara dan irama hanya dapat nilai 8 1/2.

    Salam

    Andy
    TKL BF – Bekasi

    Posted by Andy - TKL | April 23, 2012, 8:03 am
    • Bung Andi yth,
      ya dengan cara seprti itu komparasi /pengaduan nilainya.
      Oya Bung Andi, cara ini bukan menurut Wiwied Maestro, tetapi aturan yang ada,
      Semua perumus gunakan cara pengaduan seperti ini.

      1. Dasar Suara
      BBK 1 II III IV
      8 ½ 8 ½ 8 ½ 8 ½
      8 ½ 8 ½ 8 ½ 8 ½
      2. Irama
      BBK 1 II III IV
      8 ½ 8 ½ 8 ½ 8 ½
      8 ½ 8 ½ 8 ½ 8 ½
      3. Ujung
      BBK 1 II III IV
      8 ¾ 8 ½ 8 ¾ 8 ¾
      8 ¾ 9 9 9

      Dan seterusnya…..
      4. Tengah
      5.. Depan

      jika kita semua ada usulan,silahkan wacanakan ke P3Si Pusat. Hanya sebaiknya
      di berikan alasan2, baik atau ruginya jika gunakan cara perumusan dibawah tahun 1994, diatas 1994-2006
      2006 – s/d skrg.
      Perkutut dki dot com hanya ingin hitam hilang, dan sdh sy usulkan serta di MUNAS kan, walaupun kalah tapi tetap🙂

      Salam

      Posted by noe | April 23, 2012, 9:15 am
  11. Bung Noe ysh,

    Atau pada setiap babaknya harus mendapatkan nilai ujung dengan angka 9

    jadi kalau lomba perkutut ujungnya tidak panjang / bagus (nilai 9 ) sudah bisa dipastikan akan sulit menang jika di adu nilainya.

    Salam

    Andy
    TKL BF Bekasi

    Posted by Andy - TKL | April 23, 2012, 8:06 am
  12. pengaduan sudah benar dan tidak ada masalh om andi….
    yg di wacanakan harusnya bisa dimunculkan aturan baru sebelum di adu nilai per unsur suara.
    kalau posisi draw……seperti yg saya tulis diatas,
    bila posisi nilai draw baik jumlah babak utama maupun babak serep plus letak nilai perbabaknya sama misalkan 43 rata 4 babak atau 43.5 rata 4 babak….ini sangat fair kalau di adu perunsur suara……
    tp kalau posisi peletakan perbabak babak ke dua babak ke tiga dan ke empat masih beda..
    HARUSNYA ITU BISA JADI ACUAN MEMUTUSKAN BURUNG JUARA,

    Posted by anang | April 23, 2012, 9:02 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: