//
you're reading...
Wacana

JURI… OH…. JURI

 

Dalam perjalanan beberapa saat lalu perkutut dki dot com secara tidak langsung mendapatkan begitu banyak informasi ataupun keluh kesah dari KungMania di Jakarta, Lampung, Yogyakarta, Solo dan Semarang, baik yang disuarakan oleh penggemar perkutut rumahan maupun para kungMania yang sudah malang melintang puluhan tahun di dunia “konkurs”.

Dari obrolan iseng itu, garis besar pembicaraan selalu bermuara diseputar “juri”.
Hali ini sangat ironis, sebagian besar mereka memberikan poin negatif dalam soal kredibilitas para juri perkutut, dan dianggap sebagai biang keladi hancurnya kepercayaan atas jalannya lomba.

Perkutut dki dot com, sebagai pendengar, tidak ingin ikut di dalam polemik siapa dan kenapa, mengingat sering juga mendapatkan keluh kesah para juri terhadap para kungMania, pengurus maupun aturan itu sendiri.

Berikut beberapa ringkasan keluh kesah yang diperoleh :

Dari pihak kungMania

  1. Mempertanyakan kenapa pemenang selalu di dominas oleh pemain2 itu2 saja
  2. Sering lihat juri terima uang dari pemain, saat selesai lomba
  3. juri harus ada regenerasi, tidak independent lagi
  4. Kenapa kalau burung milik pengurus cepat di nilai tinggi
  5. Kenapa burung bunyi dengan interval jauh tapi mendapat nilai tinggi
  6. Sering melihat juri melakukan jual beli burung, sesuai aturankah?

Dari Pihak Juri

  1. Apa ada burung istimewa kuat bunyi dengan irama yang sama sebanyak 5,6 kali
  2. Kalau ingin lakukan protes, silahkan ke panitia, kan ada prosedurnya
  3. Makanya jangan teriak keras2, supaya bisa mendengar pantas atau tidak burung itu diksh nilai tinggi.
  4. Kami bekerja sesuai aturan, itu yang penting

Demikian sedikit ringkasan dari beberapa obrolan dengan para penggemar perkutut dan juri.

Jayalah perkutut indonesia, tetap bersatu di dalam NKRI

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

4 thoughts on “JURI… OH…. JURI

  1. Kepada ykh,

    Bung Admin di tempat,

    Saya mencoba mengomentari keluh kesah dari pihak juri yang nomor 1 dan nomor 4 yang saling berlawanan.

    Sepertinya juri memaklumi burung istimewa (seperti no 1) atau membolehkan burung tersebut bunyinya hanya 4 kali saja pada setiap kenaikan nilai.
    Padahal Aturan penilaian nya adalah : 4 kali bunyi untuk menaikkan perkutut Nilai 2 warna saja.
    Untuk naik ke nilai 3 warna, perkutut tersebut harus bunyi sedikitnya 6 kali dan menghitungnya pun harus di mulai dari bunyi pertama lagi setelah kenaikan nilai yang terakhir, jadi bukan ditambah selisih nya..misal bunyi empat kali naik 2 warna dan bunyi 2 kali lagi naik 3 warna.

    Jadi menurut saya, Juri harus tetap bekerja profesional seperti aturan yang tercantum dalam ad/art, tidak bisa peraturan tersebut diubah dalam pelaksanaan sesuai keinginan pemilik atau penyelenggara lomba atau keinginan juri tersebut.

    Terima kasih,

    Andy – TKL BF Bekasi

    Posted by Andy | February 16, 2012, 8:11 am
  2. Menyimak artikel-2 diatas memang inti permasalahan ada di penjurian, sy hanya kasih saran demi perbaikan kedepan:

    1. Tugas juri khususnya dilomba Nasional sebaiknya di roling, sebab selama ini tugas juri berdasarkan PERMINTAAN panitia ttg siapa-2 yg bertugas dng alasan jurinya sdh berpengalaman, takut ada permasalahan (complen-2 dari peserta lomba). Dengan sistim permintaan inilah maka dari tahun ketahun yg terjadi seperti artikel-2 diatas (No.1 – 5 keculai No.3).

    2. Sebelum pelaksanaan lomba sebaiknya panitia mengumumkan sistim tata cara penilaian termasuk persayaratan-2 wajib bunyi sehingga peserta akan faham dan akan teriak seperlunya saja,kenyataan dilapangan banyak pesereta lomba yg tdk tahu wajib bunyi yg ditentukan, misalnya “utk nilai 1 waran cukup 1-2 kali bunyi, utk 2 waran harus 2-3 x bunyi sesuai kualitas, utk 2 plus hitam harus 3x bunyi, utk 3 warna hrs 4 kali bunyi sesuai kulaitas dan seterusnya” Dengan adanya pengumuman persyaratan wajib bunyi tsb maka peserta akan bisa membedakan mana persyaratan bagi lomba Piyek (setiap kenaikan nilai cukup wajib bunyi 1 kali tetapi yg berkualitas)dan lomba Burung Dewasa.

    3.Panitia sebaiknya ikut menjaga ketertiban lomba, misalkan jika ada peserta yg teriakannya arogan (sok jagoan) dan memaksakan kehendak sebaiknya menegur peserta lomba tersebut agar juri bekerjanya dpt indipenden (lebih PD)dalam menilai.

    4. P3SI dalam merikrut juri sebaiknya disamping cakap, piawai dalan penilai suara BP jg memperthatikan latar belakang calon juri tsb dan sebaiknya seorang juri BP bukan pekerjaan yg utama tp merupakan pekerjaan sampingan agar si Juri tdk ketergantungan pada penghasilan dari Juri saja.

    5.Dihimbau bagi Pengurus P3SI sebaiknya tidak ikut teriak-2 dalam melombakan BPnya. Semoga bermanfaat. Terimakasih

    Posted by Gus Bayu | February 28, 2012, 10:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: