//
you're reading...
Wacana

perkutut “ujung” nya kurang panjang

 

Sudah lama tidak tulis blog, beberapa bulan ini sering dengar di lapangan lomba, istilah istilah keren di antara penggemar bururng perkutut. Kali ini yang cukup mendominasi adanya istilah papan atas, papan menengah dan papan bawah

hingar bingar perkututan tanah air, saat ini mencapai puncaknya, kalau pinjam istilah kungMania, transaksi di papan atas semakin edan. Waduh, ada papan atas pastinya ada papan bawah, mungkin perbedaannya kalau di papan atas transaksi terbuka jelas di atas papan, kalau perkututan di papan bawah, transaksi dilakukan dibawah papan, malu-malu.
Ibarat suara burung perkutut hingar bingar ini sama dengan suara depan, kuenceeeng melengking, bawa depan istilah kungmania.

Sekarang perhatian kita tujukan di papan menengah, nah ini istilah apa lagi, konon katanya para “pemain” perkutut, papan menengah itu yang berada di lingkaran transaksi berkisar antara go tiao /ima juta sampe cap tiao / sepuluh juta, tidak pernah sampe ji go / dua puluh lima juta.Tambah waduh kalau ada model harga di dunia perkututan tanah air, ibarat suara burung perkutut, adanya papan menengah ini suara tengah, agak enteng, kurang “teges” kata “para pakar” perkutut.

Kembali ke hingar bingar konkurs dan transaksi di papan atas, sering terdengar suara bisik-bisik di pinggir lapangan, ada transaksi jawara burung perkutut dengan harga cepe tiao / seratus juta an, tapi habis dibeli sang jawara tidak punya aura jawara, alias melempem ibarat krupuk, mblegedes alias memble. Tapi ada juga transaksi yang dibawah ratusan tiao tadi, sang jawara malah “melejit”, hebring, top markotop.
Nah, kalau fenomena ini ibarat suara burung perkutut adalah irama, jadi kata sang “pakar” tadi, transaksinya kurang teliti, kurang harmonis, irama tidak stabil, turun “step”, tapi tidak menutup kemungkinan adanya “penjual minteri” alias bunyi akal2an sewaktu di arena lomba, di “pale” istilah kerennya.
banyak juga ya istilah perkututan.

Seharusnya ibarat dasar suara, hobby klangenan perkutut ini memiliki nilai sempurna, seharusnya. karena, puluhan tahun sudah masyarakat mengenal, menyaksikan dan mendengar kalau hobby perkutut adalah hobby yang “priyayi”, hobby yang beretika. Kenyataannya sekarang, entahlah.

Sekarang tinggal suara ujung, ibarat penggemar burung perkutut yang jumlah ribuan di luar “pemain”, tidak mendengar dan menyaksikan lagi hingar bingarnya perkutut.

jadi suara ujung, kurang panjang

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: