//
you're reading...
Wacana

KETAT SALAH LONGGAR SALAH

Mengikuti perkembangan penjurian di wilayah jabodetabek dalam satu tahun ini dapat disimpulkan sudah sangat sangat baik. Semua tata tertib penjurian sudah dijalankan, tanpa pandang bulu dalam penilaian atas kepemilikan jagoaan. Namun perkembangan ini tidak serta merta diikuti para pelomba, masih banyak komentar2 yang bernada keberatan atas ketatnya syarat bunyi yang telah disepakati bersama. Adapun komentar2 ini diantaranya, “sudah sangat sulit mencari burung yang memenuhi banyak bunyi dengan tingkat kestabilan yang disyaratkan”, ada pula komentar yang lebih ekstrim “kenapa di lomba nasional syarat bunyi lebih ringan”.

Dengan adanya pola tanggap para pemain seperti yang disebutkan di atas, rasanya para juri tidak perlu untuk mengurangi sedikitpun kinerja yang sudah sangat baik ini.
Sudah waktunya para pelomba untuk lebih selektif untuk mengikut sertakan jagaoannya untuk diturunkan di arena lomba. Yakinlah, suatu saat kita akan menemukan kembali burung jawara sejati seperti susi susanti, misteri bahari, meteor dan jacko, dimana syarat bunyi yang dimiliki jawara jawara tersebut sangatlah mumpuni.

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

2 thoughts on “KETAT SALAH LONGGAR SALAH

  1. Nah ini artikel Baru mantap utk didiskusikan Bung Admin,Ok trims atas artikel yg cerdas dan mendidik. Menyikapi ulasan tersebut diatas menurut hemat saya (maaf bukannya memuji), di seluruh Indonesia hanya Korwil P3SI Jabodetabek yang hampir menjalankan semua tata tertib penjurian sudah dijalankan dan tanpa pandang bulu dalam penilaian atas kepemilikan jagoaan, ya meskipun ada oknum juri yg berselingkuh dengan peserta lomba itupun hanya 1-2 persennya saja. Kembali kepermasalahan diatas,persyararatan wajib bunyi sebagai persyaratan penilaian di dalam AD/ART P3SI sepengetahuan saya hal tersebut telah banyak diturunkan yang tadinya harus berbunyi 4,6,8,10 kali dan berturut-turut tanpa kesalahan sudah di amandemen menyesuaikan keadaan burung saat itu, bahkan sebelum lomba hal tersebut dalam teknikal meeting juri dibahas kembali dan cenderung dikurangin apabila suasana lomba/cuaca tidak memungkinkan. Memang terkadang Panitia suka lupa mengumumkan sehingga masyarakat pelomba/kung mania kadang-2 bingung sehingga mereka beranggapan telah terjadi diskriminasi dan seterusnya. Para pelomba terutama para pedagang burung so pasti menginginkan persyaratan yang paling ringan agar dapat dinilai, bahkan tidak mustahil hanya ekornya saja yg bergoyang minta dinilai lebih, dan pada akhirnya nanti para pedagang akan menggampangkan/meremehkan kualitas BP dan pada akhirnya akan berternak burung-2 yang BS/afkiran (patah, nirus tdk syabil) saja cukup. Mari kita merenung sejenak, apakah permintaan-2 yang demikian ini musti diakomodir dengan dalih persayaratannya terlalu ketat, kaku dan susah naik nilainya. Apabila hal ini diakomodir oleh pengurus P3SI dengan alasan demi ramainya perkutut, ini kan organisasi hobby dan seterusnya ya sudah siap-2 aja P3SI kelaut. Mengkutip pernyataan di atas “kenapa di lomba nasional syarat bunyi lebih ringan”, nah ini merupakan tugas dari P3SI Pusat karena Lomba Nasional menjadi tanggungjawab P3SI Pusat. Menurut saya ini harus di evaluasi dan perlu dibahas kembali oleh pengurus P3SI dalam Mukernas tidak perlu harus menunggu Konggres (terlalu lama), kalau memang persyaratannya terlalu ketat atau kebanyakan persyaratan wajib bunyinya ya sudah dikurangin saja dan diputuskan dalam Surat Keputusan dan lalu dibacakan pada saat lomba sehingga kung mania tau dan faham sehingga tidak menimbulkan persepsi yang buruk terhadap P3SI terutama kinerja Juri. Apabila sudah di putuskan dalam Mukernas untuk itu dimohon para Juri Penilai harus benar dilaksanakan serampak diseluruh Indonesia dan jangan lagi dikurangin-2 lagi persyaratan bunyinya, seandainya ada toleransi dng alasan cuaca dan lain-2 hendaknya harus adil perlakuaanya terhadap semua peserta lomba. Demikian comment sy semoga bermanfaat …

    Posted by Gus Bayu | December 31, 2010, 7:44 am
  2. KETAT SALAH LONGGAR SALAH, yang bener adalah sesuai aturan yang berlaku. Syarat jumlah bunyi 4,6,8,10 kali sesuai dg ADart adalah Benar, krn mnrt hemat Kunto, hal ini mrpk penilaian yg sangat vital dan mendasar sebab dengan ketentuan tersebut maka kualitas kestabilan BP akan terlihat dengan jelas. Terkait dengan kebijakan pengurangan jumlah bunyi namun dilaksanakan dengan tertib spt yg telah berjalan di Jabodetabek, merupakan langkah / upaya proses sosialisasi terhadap pelaksanaan ADart se-utuhnya. Dan saya sangat sepakat dg statemen Bung Red bila tertib melaksanakan ADart maka Yakinlah, suatu saat kita akan menemukan kembali burung jawara sejati seperti susi susanti, misteri bahari, meteor dan jacko, dimana syarat bunyi yang dimiliki jawara jawara tersebut sangatlah mumpuni.
    Salam Kung Mania………

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | January 10, 2011, 4:53 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: