//
you're reading...
Wacana

LOMBA NASIONAL = TIDAK ADA LATBER

Di dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga yang dimilik P3Si, dinyatakan dengan jelas bahwasannya jika terdapa pelaksanaaan lomba dengan kategori Nasional, maka seluruh korwil tidak dapat menyelenggarakan lomba dalam kelas apapun.

Pernyataan dalam pasal tersebut bertujuan sangat baik, karena  melindungi agar jalannya lomba nasional tersebut dapat berjalan lancar dan sukses, demikian juga dengan kaitannya untuk menjaga prestige gelaran lomba dimaksud.

Lomba Nasional memang memiliki magnit yang sangat kuat bagi setiap kungMania, karena bagaimanapun predikat juara di kategori ini memilki dampak positif bagi kungMania untuk memasarkan produk2nya. Dengan kata lain lomba ini menjadi media tertinggi dan sangat bergengsi bagi sekuruh kungMania di tanah air

Namun sekarang  pertanyaan yang sangat mendasar, bagaimana dengan potensi potensi daerah yang sedang memiliki banyak pelomba namun tidak memilki jawara yang untuk diturunkan dalam kelas nasional yang pelaksanaanya jauh dari daerahnya, misalkan di luar pulau.

Memang kita menyadari setiap kegiatan apapun perlu suatu aturan yang bertujuan agar gelaran dimaksud mejadi sakral atau bergengsi, yang ditunggu tunggu penggemarnya.

Marilah kita secara bersama sama baik pusat maupun korwil beserta jajarannya untuk segera duduk bersama sama guna membicarakan hal hal yang kiranya dapat dirubah dengan pertimbangan2 yang matang.

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

24 thoughts on “LOMBA NASIONAL = TIDAK ADA LATBER

  1. Didadalam AD/ART Bab III Pasal 1 menyebutkan bahwa Konkurs Seni Suara Alam Burung Perkutut adalah suatu seleksi yang bertujuan menentukan ukuran nilai keindahan suara burung perkutut peserta konkurs agar dapat ditetapkan peringkatnya dalam urutan kejuaraan. Atau dapat diartikan bahwa Konkurs adalah: tempat atau ajang utk perkompetisi bagi para kung mania utk mengukur kemampuan kualitas suara BP yang dimiliki. Dalam Pasal 3 nya menyebutkan Lomba atau Konkurs terdiri dari beberapa tingkatan atara lain: Lomba Nasional, Lomba Besar, Lomba Regional dan Lomba Lokal/Latber.
    Pelaksanaan Konkurs/lomba apapun jenis tingkatan lombanya pasti akan membawa dampak positif antara lain:
    1. Bursa perdagangan perkutut makin meningkat ramai;
    2. Korps Juri dan Perumus beserta asistennya akan tersedia lapangan kerja (mendapat income);
    3. Panitia akan tersenyum lebar jika pelaksanaan sukses dibanjiri peserta lomba;
    4. Para peternak, pembuat piala, pengrajin sangkar, asesoris perkututpun akan kebagian rezeki;
    5. Masyarakat disekitar lomba dan masyarakat pada umumnya pasti akan merasakan peningkatan Ekonominya.
    Dari ke 4 jenis atau tingkatan lomba tersebut yang membedakan hanyalah “Gengsi” utk itulah P3SI dengan berbagai cara supaya lomba tersebut berkesan “Prestige” maka masing-masing jenis lomba dibedakan dengan selisih Point yang dibungkus dengan nama LPI (Liga Perkutut Indonesia) dengan dilengkapi sangsi-2 berupa pemotongan Point apabila tidak mengikut sertakan lomba pada wajib tanding dan lain-lain. Kembali ketopik diatas bahwa kalau memang benar didalam AD/ART dituangkankan kedalam pasal-2 tertentu tentang laranggan-2 untuk melaksanakan lomba yang bersamaan dengan lomba Nasional, menurut saya pasal-2 tersebut perlu diamandemen. Mengapa demikian sebab pertimbangannya hanya “Even bergengsi” tanpa memperhatikan aspek-2 lainnya seperti berapa puluh2 orang juri dan perumus yg memble (tidak bertugas) dan berapa ratus atau ribu peserta yg tidak menggantang/melombakan BP nya, dan msh banyak potensi perputaran ekonomi lainya mengalami stag karena harus silent (tidak mengadakan lomba). Kebijakan tersebut layak diberlakukan pada tahun 1980 an sebab perkembangan BP saat itu sangat perlu mendapat suport dari pengurus dan Kung Mania berbagai daerah. Oke kalau kita tarik mundur kebelakang karena P3SI merupakan organisasi hobby jadi harus flexible, pertanyaannya apakah dapat dikatakan flesibel atau wajar atau apalah namanya jika pada saat lomba Nasional tersebut hanya memberikan peluang bekerja bagi 6 s.d 10 orang Juri Nasional? (sementara puluhan juri nasional lainya dan ratusan juri senior/yunior beserta perumusnya pada memble), bagaimana dengan burung-2 ribuan peserta lomba lainnya yang sudah gatal pingin lomba terpaksa harus ditunda hanya karena ada lomba Nasional?.Maaf ini pertimbangan hanya dari sudut Ekonomi, kemudian pertimbangan lainya seperti Aksesibilitas tempat lomba, apakah semua peserta bisa hadir bila lombanya harus menyeberang lautan/luar pulau?, belum transportasi musti pakai pesawat ,sudah on line kah P3SI dengan bandara jika peserta membawa BP lomba?.
    Ini pertimbangan hanya 1 kali lomba Nasional, bagaimana klo lomba Nasionalnya ada 6 kali?. Fakta yang ada sekarang, Lomba Nasional tidak lebih dari 4 s.d 6 Blok saja, artinya apa bahwa Kung Mania tidak harus dan wajib mengikuti lomba Nasional karena kung mania sadar bahwa BP jawaranya tidak semua berkualitas Nasional.
    Nah dari argument-2 tersebut diatas menurut saya seyogyanya Korps P3SI dalam memberikan larangan/himbauan hendaknya dipertimbangkan juga faktor-faktor lain akibat larangan atau himbauan tersebut sehingga tidak saling mematikan perputaran lomba/konkurs, perdagangan BP dan perputaran ekonomi lainnya. Saya berharap Korps pengurus P3SI dapat memahami perkembangan fakta dilapangan yang sebenarnya ingin berteriak mengatakan ketidak setujuannya namun tidak berani, tidak mampu, atau tidak bisa mengatakannya karena bukan pengurus P3SI. Bila memungkinkan silahkan diadakan poling atau di konfrontir kepada korps para Juri dan Perumus (Nasional, Senior dan Yunior), serta para Kung Mania tentang larangan melaksanakan lomba pada saat Lomba Nasional. Saran atau pendapat menurut saya agar tidak saling mematikan maka:
    1. Lomba Nasional Boleh dilaksanankan berbarengan sepanjang jarak kelokasi lomba Nasional berjarak radius 500 Km;
    2. Jenis lomba yg boleh dilaksanakan hanyalah Lomba Lokal/Latihan berhadiah dan tidak boleh melebihi 1 blok pada masing-2 kelas lomba;
    Demikian tanggapan saya Pak .Admin semoga bermanfaat. Trims.

    Posted by Gus Bayu | October 31, 2010, 9:55 pm
  2. Setuju dg pendapat Gus Bayu…, wadah melatih BP mll Latber dan lomba yg bertaraf RT/RW…?!, jadi yg berlatih biarkan tetap berlatih dan yg siap dg BP-nya utk di lombakan di taraf Nasional tetap akan berangkat ke pergulatan akbar tersebut. Benar ! untuk mempunyai BP Jawara yg layak utk diterjunkan di Lomba Nasional sangat tidak mudah, sehingga jika mmg ada peraturan tidak diperbolehkan mengadakan latber maupun sejenisnya di Daerah msg-2, maka saya sepakat statement itu di amandemen. Oh ya,Gus… mau nanyakan ttg penjurian… adakah yg pernah mengusulkan utk mengurangi penilaian thd BP yg ternyata setelah diberi nilai tiga warna, dlm perjalanan lomba tsb ternyata BP ini kualitasnya menurun bahkan patah berkelanjutan, yg akhirnya dinyatakan tdk layak 3 warna trus dikurangi nilainya dg mencabut bendera 3 warna menjadi dibawahnya…. ? pernahkah terjadi dan mungkinkah ini bisa dilakukan ? Mohon info dan penjelasan kpd Gus Bayu juga kpd rekan-2 Kung mania lainnya yg sempat membaca di web ini…. Salam Kung Mania… terima kasih…….

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | November 1, 2010, 5:23 pm
  3. Salam kenal utk Mas Kunto, menanggapi topik diatas semoga pimpinan P3SI menelaahan dan memperhatikan pendapat-2 di masyarakat/kung mania agar tidak saling mematikan kegiatan di masing-2 daerah. Menyambung pertanyaan Mas Kunto tentang pengurangan penilaian didalam AD/ART tentang penilaian memang tidak ada pasal yg mengatur tentang penguranagn atau pencabutan koncer penilaian, akan tetapi dilapangan pernah terjadi demikian. Menurut pendapat saya, hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh Tim Juri Penilai dengan pertimbangan: 1. Dasar hukumnya di AD/ART tidak ada; 2.Dalam 1 blok buat apa ditambah petugas Koordinator Juri dan Dewan Juri klo sampai terjadi kecolongan nilai; 3.BP setiap dalam peningkatan penilaian harus melewati tahapan-2 wajib bunyi yg ditentukan. Nah jika sampai terjadi kecolongan berarti merupakan kesalahan dari Koordinator/Dewan Jurinya. Contoh: BP secara keseluruhan layak 3 warna, utk mendapat nilai tsb BP telah melewati persyaratan2 bunyi yg ditentukan, namun setelah mendapat nilai 3 warna BP tsb terlalu gacor dan mengalami penurunan kualitas (ketoklak, ketele, atau ujung mendekin/patah) Nah,keputusan yg sdh dijatuhkan tersebut sebaiknya tdk boleh di anulir/dicabut kembali/diturunkan nilainya sebab semua persyaratan bunyi telah dilakukan ole BP tsb, akan tetapi utk Babak berikutnya si Koordinator/Dewan Juri tersebut harus memberitahukan kpd Juri maupun Koordinatornya agar berhati-hati supaya tdk kecolongan kembali. Demikian Mas Kunto pendapat saya yg sampai saat ini msh Juri Senior DKI. Trims.

    Posted by Gus Bayu | November 2, 2010, 1:15 pm
  4. Menurut Pendapat saya :

    Hanya Lomba Nasional saja yang memang harus steril dari lomba lomba perkutut lainnya di daerah manapun di wilayah Indonesia.

    Untuk itu, sebaiknya semua lomba LPI kelasnya NASIONAL semua saja. Jangan ada lagi Lomba LPI kelas besar, semuanya kelas NASIONAL.

    Untuk Lomba LPI kelas NASIONAL ini di adakan 2(dua) bulan sekali dan terkadang 2,5 (dua setengah bulan) sekali sehingga hanya ada 5 kali LOMBA NASIONAL. JADI benar bener ada greget setiap lomba NASIONAL diadakan.

    Kota kota yang kebagian jatah NASIONAL bisa mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. sarannya : PALEMBANG,JAKARTA,TASIKMALAYA,JOGJAKARTA,BALI

    Lomba Besar hanya di masing masing Korwil, setiap korwil diharapkan minimal setiap bulannya mengadakan lomba BESAR di masing masing wilayahnya.

    LOMBA REGIONAL diadakan setiap minggu di masing masing korwil dengan mengupayakan setiap korda mendapatkan kesempatan mengadakan lomba secara bergiliran.

    Saya yakin Lomba Perkutut akan tetap semarak, Terutama di Korwil JABODETABEK…yang penikmat lombanya sangat potensial.

    Untuk Latber disarankan hanya berlangsung di hari hari senin sampai sabtu saja. karena tiap Minggu selalu diadakan lomba REGIONAL.

    Demikian harapan dan sumbang saran saya

    Terima kasih,

    Andy – TKL BF

    Posted by Andy - TKL BF | November 2, 2010, 4:36 pm
  5. Menurut saya semua kometar yang ada adalah benar gus bayu ,mas kunto, pak andy tkl, anda semua adalah orang yang ingin perkutut indonesia maju, yang selalu berpikir bijak untuk kemajuan perkutut tanah air, terima kasih. Salam kung untuk mas bayu, mas kunto, pak andi tkl juga untuk semua kungmania tanah air

    Posted by Adi wijaya | November 2, 2010, 10:28 pm
  6. Salam kenal juga Gus Bayu, terima kasih ttg penjelasan yg telah disampaikan diatas. Mnrt penjelasan diatas, artinya bila dlm lomba, BP telah memenuhi persyaratan bunyi yg ditentukan, maka BP tsb berhak mendapatkan sesuai dg kemampuan sejauhmana BP dpt memenuhi persyaratan bunyi yg ada (2,3,atau 4 warna dst). Apabila kita tidak mendengarkan langsung saat lomba tapi hanya mencermati dan mengamati hasil penilaian/kolom(Depan-Tengah-Ujung-Ds.Suara-Irama), Apakah kita bisa membedakan hasil penilaian apabila kita tidak mendengarkan langsung atau mencermati dan mengamati hasil penilaian/kolom(Depan-Tengah-Ujung-Ds.Suara-Irama).BP yang STABIL dengan BP yg HANYA MAMPU memenuhi persyaratan bunyi yg ditentukan kemudian kualitas suara langsung menurun (ketoklak, ketele, atau ujung mendekin/patah). Apabila berkenan mohon penjelasan… Mohon maaf dan harap maklum Gus…, masih belajar… Terima Kasih….

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | November 3, 2010, 5:09 pm
  7. Klo hanya mencermati hasil penilaian saja (lembar kertas juri), kita tidak bisa membedakan apakah BP tsb stabil atau tidak, biasanya yang membedakan BP bagus dng yang lebih bagus (dlm lembaran kertas juri)adalah isian urut-urutan suara BP, Dalam penilaian suara BP urut-2 an yg tertinggi adalah di Dasar Suara, Irama, Ujung, Tengah dan Depan. Artinya apabila BP mempunyai nilai yang sama 3 warna (43,5) maka nilainya yg akan dibanding-2kan: Misal BP YANG STABIL: Suara Depan: 8,5, Tengah: 9, Ujung 9, Irama 8,5, Dasar Suara 8,5 total jumlah 43,5 sementara BP KURANG STABIL Suara Depan: 9, Tengah: 9, Ujung 8,5, Irama 8,5, Dasar Suara 8,5 total jumlah 43,5, jadi yg lebih tinggi/menang adalah burung yg stabil krn suara UJUNGNYA: 9 sedangkan yg kurang stabil SUARA UJUNGNYA 8,5. Juri penialainya pasti akan membedakannya pada kelemahan/kekurangan suara BP tersebut dimana (Suara Depan, Tengah atau Ujungnya) itu kalau BP nilainya dibawah 44, tapi klo BP nilai 44 s.d 45 maka yg dibedakan adalah Irama dan Dasar Suaranya. Klo terkait pertanyaan yg diatas (nilai yg kecolongan) karena keputusannya sdh dijatuhkan maka juri penilainya tinggal mengatur saja perbedaan BP yg bagus stabil dengan BP yg Bagus tp kurang stabil. Nah utk Bapak selanjutnya Dewan maupun Koordinatornya memperingatkan kpd juri yg bersangkutan agar berhati-hati terhadap BP tersebut agar tidak kecolongan ke dua kali. Demikian kira-2 gambaran kinerja juri.Trims.

    Posted by Gus Bayu | November 4, 2010, 12:10 pm
  8. Gus Bayu,

    Kalau gitu lebih baik kita mencari perkutut yang dasar suara nya bagus dulu aja yah….setelah itu kita cari yang Irama nya bagus…kalau gak ada juga kita cari yang ujungnya bagus…untuk tengah dan depan belakangan aja yah…

    saya mencoba beternak perkutut yang bagus dasar suaranya ( sama dengan latar tembus), bagus iramanya ( sering menjadi perdebatan), bagus ujungnya…

    wassalam..

    Salam kung mania,

    Numpang jualan yah…

    TKL BF Bekasi menjual anakan jantan untuk lomba piyik hanging, lomba piyik kerek setengah tiang dan lomba dewasa.

    Harga Jual mulai lima ratus ribu rupiah.

    bagi yang berminat bisa menghubungi nomor 0857 81152 999 dan 0812 84256 999.

    Posted by Andy TKL | November 4, 2010, 4:30 pm
  9. Ok gus Bayu, diterima dg jelas penjelasannya…. mungkin lain kali kalo ada hal-hal yg belum tahu ttg lomba BP akan Kunto tanyakan kembali… sekali lagi terima kasih atas semua penjelasannya… Salam buat Kung Mania Indonesia… dan sukses selalu… oh ya, tak lupa Kunto ucapkan terima kasih buat Bung Noe sbg pengelola web ini….

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | November 4, 2010, 6:03 pm
  10. pada prinsipnya apapun yg sudah diuraikan diatas secara gamblang dan jelas sangat bisa dicerna, hanya orang yg belajar baca sj yg kurang bisa mencerna. dan prinsip saya sependapat dan tidak pernah ada permasalahan karena muaranya sama-sama ingin memajukan dan meramaikan perkutut.
    namun demi terakomodasinya wacana-wacana tersebut hendaknya diutarakan lewat organisasi yg mengelola, kalau lingkup korda ya ke korda kalau lingkup korwil ya ke korwil….
    meskipun “hanya” organisasi hobi dan sosial didalamnya juga ada adart yg sudah disepakati bersama, dan hendaknya itu menjadi acuan kita bersama sehinga hobi perkutut bisa langeng sampai detik ini.
    munas , mukernas menjadi cara untuk menyampaikan sgala kemungkinan perubahan didalam adart andaikata dalam evaluasi selama kurun waktu tertentu dirasa harus berubah sesuai dengan perkembangan penghobi itu sendiri bisa dirubah.

    jangan sampai maksud yg baik direspon kurang baik karena cara yg kurang tepat….sebaiknya kita kalau mau meluruskan besi yang bengkok jangan sampai membuat bengkok besi dibagian lainya.

    kalau mau organisasi jalan dengan adart yg benar sebaiknya mencontohkan kalau sudah menjalankan adart yg benar pula.

    om bayu….soal penilaian , ini bukan koreksi atau membetulkan karena didalamnya tidak ada kesalahan….
    soal penilaian 43.5 stabil dengan pembagian: d: 8.5 t:9 u: 9 i: 8.5 dsr: 8.5…benar.

    43.5 krng stabil: d.9 t: 9 u: 8.5 i: 8.5 dsr: 8.5…..benar juga,
    hanya penaruhan nilai yg demikian krng tepat dan banyak dipakai juri kalau tidak suka dgn yg punya burung…

    knapa: posisi penaruhan nilai yg demikian akan kalah dengan nilai 43.1/4 dgn komposisi nilai d: 8.5 t: 9 u; 8.3/4 i; 8.5 dsr: 8.5 didalam perekapan manakala terjadi jumlah nilai yg sama sampai nilai cadangan jg sama sehingga diadu dari belakang dan dimulai dari babak pertama, dan anggap saja dibabak lain penaruhan dan posisi nilai draw. maka burung dgn nilai 43.5 td akan kalah dgn 43.1/4 manakala pengaduan sampai disektor ujung. yg 8.5 dgn 8.3/4,

    buat rekan yg lomba jgn pernah heran meski burung kita dibabak pertama dapat nilai 43.5 sendirian dan babak lain 43.1/4 atau lain2, belom tentu kita juara, meskipun secara akal sehat 43.5 pasti lbh baik dari 43 atau 43.1/4 secara penilaian saat itu.

    tdk bisa jg menyalahkan juri tapi adart lah yg tidak mengakomodir persoalan ini, dan yg merasa punya hak bersuara knapa banyak diam disaat ada persoalan seperti ini, lain kali pembahasan penilaian sebaiknya dipasrahkan kepada juri saja atau ahlinya , dan penunjukan ketua penjurian baik itu dikorda korwil maupun pusat mestinya diisi orang 2 yg memang punya kapabilitas disana, meskipun dari figur tukang becak kalau mampu akan lbh baik dr pada menempatkan orng yg terpandang tp krng paham dibidang itu.
    trims bos nug dan rekan lainya smoga obrolan2 begini bisa bermuara kedalam kebenaran seperti niat kita smua

    Posted by teratai bf | November 7, 2010, 10:31 pm
  11. Kritik dan saran :
    Dikarenakan Web ini menggunakan nama PERKUTUT-DKI.COM, maka bersama ini saya mengusulkan untuk ditambahkan Kolom hasil kejuaraan di setiap lomba di Jabodetabek beserta posisi Liganya. Mengingat saat ini lomba di Jabodetabek mempunyai jadwal padat, dan hampir setiap minggu selalu diadakan lomba. Maka, mohon kiranya di koordinasikan dg Korwil JKT dan Korda di wilayah Jabodetabek untuk menginventarisir dan meng-ekspose setiap hasil lomba. Dan akan lebih baik lagi, bila dilampirkan foto-2 para juaranya. Sehingga, indonesia akan melihat bahwa begitu padatnya jadwal dan peserta lomba perkutut di Ibu Kota Indonesia tercinta ini. Harapan Tirta Jaya BF, semoga seiring dg intensitas lomba yg padat dan para juaranya mempunyai kualitas yg layak dan bagus akan menjadikan Hajatan lomba di Jakarta menjadi Barometer dan ukuran kualitas BP, teknis lmba dan penjuriannya. Demikian kritik dan saran untuk kemajuan dan peningkatan di PERKUTUT-DKI.COM, sehingga pengunjung di PERKUTUT-DKI.COM secara otomatis akan meningkat. Salam sukses buat PERKUTUT-DKI.COM dan seluruh Kung Mania di Tanah Air ini. Terima kasih…

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | November 7, 2010, 11:07 pm
  12. To: Bpk yang punya Teratai BF
    Salam kenal, mengkopi paste komentar anda seperti di bwh ini:
    “knapa: posisi penaruhan nilai yg demikian akan kalah dengan nilai 43.1/4 dgn komposisi nilai d: 8.5 t: 9 u; 8.3/4 i; 8.5 dsr: 8.5 didalam perekapan manakala terjadi jumlah nilai yg sama sampai nilai cadangan jg sama sehingga diadu dari belakang dan dimulai dari babak pertama, dan anggap saja dibabak lain penaruhan dan posisi nilai draw. maka burung dgn nilai 43.5 td akan kalah dgn 43.1/4 manakala pengaduan sampai disektor ujung. yg 8.5 dgn 8.3/4, buat rekan yg lomba jgn pernah heran meski burung kita dibabak pertama dapat nilai 43.5 sendirian dan babak lain 43.1/4 atau lain2, belom tentu kita juara, meskipun secara akal sehat 43.5 pasti lbh baik dari 43 atau 43.1/4 secara penilaian saat itu”
    Menyikapi hal tersebut diatas bahwa sudah jelas dalam pasal yg ada AD/ART ttg penilaian menyebutkan diantaranya bahwa perengkringan kejuaraan akan dinilai berdasarkan: Nilai dua (2) babak tertinggi dan dua (2) babak pendamping; Jika terjadi drow maka akan dibandingkan unsur suara BP dimulai dari Dasar suara, Irama, Ujung, Tengah dan Depan, Jika msh Drow maka akan di undi yg disaksikan pemilik burung dan saksi lainya. Nah kembali pada nilai tsb diatas sudah jelas yg nilai 43 ¼ pasti kalah dengan nilai 43,5 meskipun yg nilai 43 ¼ unsur ujungnya bernilai 8 ¾. Jika ada kejadian seperti diatas mestinya anda terangkan kepada juri maupun perusmusnya bahwa dari Jumlah Nilai 2 babak tertinggi dan nilai 2 babak pendamping sdh jelas siapa yg menang jadi tidak perlu dibandingkan lagi ke unsur suara BP (Ds Suara, Irama, Ujung, tengah dan depan) kecuali nilainya sama/drow. Demikian semoga dapat menjadi wawasan kung mania.

    Posted by Gus Bayu | December 29, 2010, 3:19 pm
  13. mas bayu benar…..yg tadi sy sampaikan adalah contoh pengaduan nilai…..kalau didalamnya sudah diadu sudah barang tentu jumlah nilai utama dan pendamping sama….
    burung a: 43.5 43 43 43.1/4
    burung b: 43.1/4 43 43 43.5

    kalau begini menurut adart diadu tidak mas….seingat sy diadu ..mohon ralat kalau salah

    Posted by anang | January 1, 2011, 7:10 pm
  14. Iya Mas Nanang, Melihat kasus diatas setahu saya klo diartikan yg ada didalam AD/ART P3SI ttg penilaian yaitu: 2 Babak “tertinggi” nya sama (43,5 dan 431/4) terus 2 Babak “pendampingnya” sama juga kan (43 dan 43) jadi YA HARUS DIADU. Mengadunya dimulai dari Babak Pendampingnya (klo disini Babak ke 2 dan ke 3 nya), yang dimulai dari dasar suara, irama, Ujung, Tengah dan suara depan (klo lihat kasus diatas pasti dimulainya dari suara ujung, tengah dan suara depan saja sebab nilainya hanya 43 berarti nilai dasar suara dan iramnya pasti sama2 yaitu 8,5), nah kalau sudah ada berbedaannya, maka yang liding lebih dengan angka “9” itulah yg menang. Namun ada juga kung mania, juri maupun perumus yg salah mengartikan, klo lihat kasus diatas sudah pasti dimenangkan burung A dengan alasan dia nilai tertingginya (43,5) dapat lebih dulu. Begitu kira-2 mas Nanang menurut saya …

    Posted by Gus Bayu | January 4, 2011, 2:44 pm
  15. seingat saya tidak seperti itu pak…coba pak bayu khan juri didki buka adart, bilamana JUMLAH NILAI TERTINGGI SAMA dan JUMLAH NILAI PENDAMPING SAMA maka HARUS DIADU DARI BABAK PERTAMA dan DARI UNSUR SUARA PALING BELAKANG, namun bila 2 nilai tertinggi terdapat nilai yg lbh tinggi otomatis dia juara cotoh burung a: 43.5 43 43 43 burung b. 43.1/4 43.1/4 43 43…maka burung a juara krn ada 43.5……KALAU PRESEPSI PAK BAYU SEBAGAI JURI CARA MERMUSKAN SEPERTI YG PAK BAYU SAMPAIKAN TD DAN ITU DIAPLIKASIKAN TEMAN2 JURI ATAU REKAN PAK BAYU YG JG JURI DIJKT….BISA SY ARTIKAN SELAMA INI PERUMUSAN PENILAIAN DIDKI SELALU MENYIMPANG DGN ADART….(SY SDH KONSULTASI DGN PERUMUS NASIONAL JATENG WIWID DAN PAK ROBY)…MOHON MAAF KL ADA SLH TULIS….BIAR JELAS TDK ADA PEMBELOKAN ATURAN SJ

    Posted by anang | January 8, 2011, 8:45 am
  16. Wah seru nich… Kunto pernah ada pengalaman lomba di Situ Gintung/Bina Lindung (maaf agak lupa persisnya lokasinya).. BP kita mendpt nilai, 43,5;tidak bunyi;43,25;43,25 dikalahkan dengan nilai 43,25;43,25;43,25;43. Disini saya hanya mohon penjelasan untuk proses belajar. Apakah keputusan juri sudah benar ? Mohon pendapat Mas Gus Bayu dan Mas Anang…..?! Terima kasih.

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | January 10, 2011, 3:16 am
  17. Mencermati pendapat mas Nanang tentang pertanyaan “contoh burung a: 43.5 43 43 43 burung b. 43.1/4 43.1/4 43 43” Menurut saya ya pasti dimenangkan Burung A dong, disini jelas nyata2 2 babak tertingginya burung A ada yang nilai 43,5 ini artinya bahwa burung A kualitasnya jauh lebih bagus dari burung B yang hanya 43 1/4 . Kalau mau kita umpamakan logika angkat besi, Burung A tsb telah mampu mengangkat barbel seberat 43.5 Kg sedangkan burung B hanya mampu mengangkat barbell seberat 43 ¼ saja walaupun sudah dicoba diangkat selama 4 babak burung B tetap maximal hanya 43 1/4 saja, jadi ya sdh pasti pemenangnya burung A gitu Bos. Untuk DKI Jakarta juga ada perumus Nasional (senior banget) “Om Mushong atau “Muhksin Jayadi” Saya rasa tidak perlu bawa-2 perumus nasional, mari kita sama-2 cermati kalimat demi kalimat, menurut saya kalimat yg ditulis mas Nanang diatas masih ada lanjutannya yaitu : jumlah 2 babak pendampingnya juga, karena apa, karena 2 Babak tertingginya sudah sama, Selanjutnya dari 2 babak yg pendamping tadi dikebet/dilihat satu persatu, mulai dasar suara, irama dan seterusnya sampai ke suara depan, nah jika babak pendampingnya yg pertama sudah ketahuan mana yg liding lebih dulu ya sudah itu yg dimenangkan, jika masih drow makan dikebet lagi nilai babak pendamping ya satunya, jika masih drow juga maka satu-2nya jalan hanya di undi pakai koin yang disaksikan oleh pemiliknya. Utk Mas Kunto mari kita cermati lagi: Burung A dua babak tertingginya 43,5 dan 43 ¼ sedangkan dua babak pendampingnya 43 ¼ dan bleng, sementara burung B nilai dua babak tertingginya 43 ¼ dan 43 ¼ dan dua babak pendampingnya 43 ¼ dan 43 , inti jawabannya hampir sama dengan permasalahan yang diatas, yaitu burung A dua Babak tertingginya sudah liding lebih dulu dengan memiliki suara yg berkualitas 43,5 sedangkan burung B hanya hanya memiliki kualitas nilai 43 ¼ , jadi yg sudah pasti menang burung A, gitu kira2 menurut saya berdasarkan pencermatan kalimat demi kalimat tetang perumusan yg ada di AD/ART …

    Posted by Gus Bayu | January 10, 2011, 4:28 pm
  18. ah seru nich… Kunto pernah ada pengalaman lomba di Situ Gintung/Bina Lindung (maaf agak lupa persisnya lokasinya).. BP kita mendpt nilai, 43,5;tidak bunyi;43,25;43,25 dikalahkan dengan nilai 43,25;43,25;43,25;43. Disini saya hanya mohon penjelasan untuk proses belajar. Apakah keputusan juri sudah benar ? Mohon pendapat Mas Gus Bayu dan Mas Anang…..?! Terima kasih……

    pendapat mas bayu..

    Burung A dua babak tertingginya 43,5 dan 43 ¼ sedangkan dua babak pendampingnya 43 ¼ dan bleng, sementara burung B nilai dua babak tertingginya 43 ¼ dan 43 ¼ dan dua babak pendampingnya 43 ¼ dan 43 , inti jawabannya hampir sama dengan permasalahan yang diatas, yaitu burung A dua Babak tertingginya sudah liding lebih dulu dengan memiliki suara yg berkualitas 43,5 sedangkan burung B hanya hanya memiliki kualitas nilai 43 ¼ , jadi yg sudah pasti menang burung A, gitu kira2 menurut saya berdasarkan pencermatan kalimat demi kalimat tetang perumusan yg ada di AD/ART …

    menurut mas bayu burung pak kunto juara khan….kata pak kunto burungku kalah je dengan nnilai begitu….PAK KUNTO SAMPEYAN PIKIR DEWE SING BENER SING ENDI MBILUNG …PO MBELINGGGG HE HEHE

    Posted by PERKUTUTINFO | January 10, 2011, 8:59 pm
  19. versi pak kunto burungnya dikalahkan dgn posisi nilai seperti diatas….versi mas bayu yg juga juri di dki…burung pakk unto harusnya juara….NAH PIYE KI MESTI IKUT ADART VERSI MAS BAYU ATAU ADART VERSI JURI/PERUMUS “NASIONAL” YG TUGAS DI LOMBA SAAT ITU…data fakta sy tdk melihat langsung hanya versi yg bersangkutan

    Posted by anang | January 11, 2011, 6:13 am
  20. Aku sendiri juga bingung ama Mas Nanang nih, kadang pakai Anang, kadang pakai tanpa nama kadang pakai perkutut info mana nih yg bener he5x, dari awalnya kan saya ditanya sama Nanang terus ditanya lg sama mas Kunto ya saya jawab sesuai alam pikiran saya, saya sendiri statusnya “Juri Perkutut” saya bisa njawab soal pertanyaan-2 yg menyangkut urutan2 kejuaraan berdasarkan perumusan karena saya waktu diklat juri juga dibekali ilmu perumusan gitu coy jadi status profesi saya di P3SI bukan Perumus, nah perkara-2 pendapat saya bersebarangan dengan perumus saat itu ya saya gak tahu, kan saya njawabnya berdasarkan pencermatan kalimat demi kalimat yg sesuai AD/ART khususnya Ps. 25 tentang urutan kejuaraan, bahkan alam pikir temen-2 saya coba alihkan ke perumpamaan olah raga Atlit Angkat besi (baca sekali lagi dong). Nah klo memang jawaban saya masuk logilka ya silahkan klo ada lomba nanti didiskusikan ama Perumusanya. trims

    Posted by Gus Bayu | January 14, 2011, 2:01 pm
  21. podo ae smai mawon bos…..kasus pak kunto kalau memang benar …skali lagi kalau benar…karena ini khan hanya sepihak….harusnya menjadi pembelajaran dan intopeksi internal, dan kalau memang adanya begitu smua aspek yg terkait sama penjurian hingga perumusan hendaknya direfresh lagi kalau perlu ada diklat penyegaraan berjangkan….kasus pemahaman yg berbeda antara mas bayu (sbg juri aktif) dan perumus (sesuai kasus pak kunto) berbeda….dan pemahamn mas bayu soal adart perumusan juga berbeda dgn yg lain termasuk dgn saya (syng sy bkn juri jd abaikan sj)…meskipun bkn perumus namun angka yg ditulis juri itu yg akan dirumus perumus….kalau pemahaman beda otomatis menilaianya jg beda….adart sbnarnya jelas hanya sj kita krng clear membacanya sehingga timbul penafsiran masing-masing….manusia tempatnya salah meskipun lebih senior bkn alasan untuk tdk mengakui salah…dan salah jg bkn musibah sehingga nggak perlu malu sehingga berusaha mempertahankan idealisme yg salah….kita tunggu sj program dr p3si pusat dan korwil soal …regenerasi dan pembekalan juri sehingga bs seragam sampai dilapangan….hehe he he suwun

    Posted by anang | January 15, 2011, 10:14 am
  22. BAB V
    PENENTUAN KEJUARAAN
    Pasal 25
    1. Urutan kejuaraan didapat dari hasil perumusan nilai yang dilakukan oleh petugas perumus berdasarkan nilai nilai yang diberikan oleh juri, koordinator dan Dewan Juri.
    2. Urutan kejuaraan ditentukan oleh :
    a. Membandingkan jumlah nilai 2 (dua) babak terbaik.
    b. Apabila jumlah nilai dua babak terbaik sama, maka dibandingkan nilai dari babak lainnya, selain nilai dari babak-babak yang sudah dibandingkan.
    c. Apabila perbandingan nilai seperti yang dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan b tetap menghasilkan jumlah yang sama, maka akan ditinjau perbandingan nilai dasar suara.
    d. Bila masih terjadi persamaan nilai, kemudian dibandingkan nilai irama.
    e. Bila masih tetap mendapatkan perbandingan nilai yang sama, kemudian berturut-turut dibandingkan nilai suara ujung dan suara tengah serta suara depan.
    f. Apabila jumlah nilai dua babak terbaik sama dan jumlah nilai dari dua babak yang lainnya juga sama maka akan ditinjau burung yang mempunyai nilai tonjolan lebih tinggi dari yang lain harus dimenangkan.
    g. Apabila semua upaya nilai perbandingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a s/d f masih tetap menghasilkan perbandingan nilai yang sama, penentuan peringkat kemenangan dilakukan melalui undian yang dilakukan oleh pemilik, wakilnya atau peserta lain.
    Pasal 26
    Hal hal yang belum termuat dalam ketentuan ini akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Ketua Umum Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia.
    Kata Ebiet GAD “Mari Kita Renungkan”
    Sebenernya temen-2 yg mengkomentari di Wibe Site ini termasuk orang-2 yg perduli terhadap kelangsungnya P3SI yg kita cintai, bagaimana tidak dengan adanya diskusi-2 ini akhirnya terpecahkan juga kenapa selama ini kita mempertahankan argumentasi berdasarkan idialisme masing2 namun itu semua pada akhirnya demi kebaikan P3SI, kalo kita baca di AD/ART P3SI khususnya Bab V, Pasal 25 tentang Penentuan Kejuaraan seperti tersebut diatas, sebenarnya aturannya sudah jelas namun Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) tentang bagaiman cara membandingkannya, lalu apakah yang dibandingkan dimulai dari 2 (dua) Babak tertingginya atau atau 2 (dua) Babak Pendampingnya, kemudian dimulainya dari Babak pertama, kedua dan selanjutnya atau dari Babak ke 4 lanjut ke babak ke 2 dan selanjutnya ini tidak clear/belum dijelaskan secara rinci. Selanjutnya mari kita baca Pasal 26 nya? Kayaknya disini permasalahan kenapa salama ini terjadi dualisme mekanisme dan pengertian perekringan dalam menentukan kejuaaran. Sekedar informasi aja untuk kung mania, waktu kepengurusan P3SI Pusat Periode 2003 – 2006 sudah pernah melakukan pemantapan atau penyegaran istilahnya tapi khusus untuk membahas “Pedoman Penilaian saja”, untuk pedoman perumusan memang tidak di bahas secara spesifik. Maka tidak salah jika ada dualisme penafsiran oleh perumus DKI dan diluar DKI, yang penting dalam pemberlakuaan sistim perumusan diberlakukan yg sama tanpa diskriminasi apakah Burung milik Bos atau burung milik peserta biasa. Mudah-2 han diskusi kita ini didengar dan direspon oleh Pengurus P3SI Pusat saat ini agar mencarikan solusi bagaiman sebaiknya agar tidak terjadi lagi dualisme tentang penentuan kejuaraan. Maaf sebenarnya diskusi ini menyimpang dari Topik Diskusinya, tapi demi perbaikan P3SI ya .. sudalah kata “ Bondan Prakoso” …

    Posted by Gus Bayu | January 17, 2011, 11:40 am
  23. ok…setelah sy baca dan saya cross cek ke adart tidak salah apa yg di sampaikan mas bayu…..

    kalimat untuk penggaduan kejuaraan yang berbunyi…..
    (c. Apabila perbandingan nilai seperti yang dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan b tetap menghasilkan jumlah yang sama, maka akan ditinjau perbandingan nilai dasar suara.
    d. Bila masih terjadi persamaan nilai, kemudian dibandingkan nilai irama.
    e. Bila masih tetap mendapatkan perbandingan nilai yang sama, kemudian berturut-turut dibandingkan nilai suara ujung dan suara tengah serta suara depan.

    teryata berubah atau berbeda dengan keputusan munas sebelumnya yang…menyatakan…Apabila perbandingan nilai seperti yang dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan b tetap menghasilkan jumlah yang sama, maka akan ditinjau perbandingan nilai dari dasar suara….babak pertama lalu babak kedua sampai babak keempat.

    d. Bila masih terjadi persamaan nilai diunsur dasar suara , kemudian dibandingkan nilai irama…juga dimulai dari babak pertama, kedua, ketiga dan keempat.

    e. Bila masih tetap mendapatkan perbandingan nilai yang sama, kemudian berturut-turut dibandingkan nilai suara ujung dan suara tengah serta suara depan….juga dimulai dari babak pertama, kedua, ketiga dan keempat…

    padahal di halaman koreksi sebelahnya tertulis tidak ada PERUBAHAN dengan hasil munas sebelumnya, jadi selama ini hasil perumusan yang tertulis di buku MUNAS…apakah TERDAPAT KESALAHAN TULIS atau KESENGAJAAN seperti nah itu yang perlu kita klarifikasi bersama.

    Posted by anang | January 19, 2011, 2:33 pm
  24. Kayaknya harus di adakan munas lagi nich …..
    Biar primbon penilaian bisa lebih di pahami.
    Pisss

    Posted by fajar nugroho | November 3, 2011, 10:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: