//
you're reading...
Wacana

BENANG KUSUT DI HB CUP 2010

Pada saat lomba di Hamengku Buwono Cup 2010 yang baru lalu (7-8 agustus 2010), ada ulasan jalannya lomba yang dapat dijadikan bahan masukan ataupun renungan bersama.
Ulasan ini dikhususkan pada lomba kelas Dewasa Senior(karena untuk lomba piyik, dapat admin katakan “rusak”, dan untuk itu tidak perlu kita bahas),demikian juga dengan kelas dewasa junior, hanya untuk pembagian kesenangan.

DEWASA SENIOR
Pada kelas yang sangat bergengsi ini, dapat dicatat hanya pada babak awal (kesatu) saja penilaian berjalan sangat obyektif. Akan tetapi memasuki babak kedua, pandangan yang menyakitkan mata mulai terlihat jelas, di mulai adanya intervensi “pemain kawakan” yang tidak jelas tugas dan jabatannya secara organisasi (kalaupun ada, harus dijelaskan sebelum jalannya lomba dan secara legalitas sah).
Konsentrasi para kungMania terpaku pada salah satu blok, tapi apa yg terjadi, pada blok lainnya terjadi “kegesitan” para juri untuk memberi nilai yang tidak wajar, dan menjadikan di blok tersebutlah susunan juara dimulai.
Sangat kita sayangkan, beberapa tokoh yang selama ini kita anggap “mengerti” suara burung tidak merapatkan barisan untuk memantau secara jelas jalannya lomba d dewasa senior (mungkin karena masing2 tokoh memiliki burung yang dilombakan). Mestinya untuk burung yg mendapatkan nilai 43 3/4 (3 warna plus hitam),para tokoh tersebut memantau secara jelas,demikian juga dengan ketua juri pusat, karena tidak main2, untuk mendapatkan nilai setinggi itu jawara membutuhkan bunyi 7 kali berturut turut dengan kualitas yang sama.

Trik trik untuk mengecoh pemain lain itu modus operandi yang sudah biasa dilakukan oleh kungMania, dengan kegaduhan di satu blok, maka ada “kegesitan: di blok lain, inilah malapetaka terjadi.
Untuk itu, marilah kita bersama sama memulai untuk membiasakan lomba tanpa/dengan teriak yang wajar, kalau tidak dimulai ya inilah akibatnya, dan akan terjadi terus menerus.

Koementar
Kunto Tirta Jaya bf
Setelah membaca komentar admin dan melihat langsung di lapangan, ternyata saya juga sependapat dengan dengan admin bahwa pelaksanaan penilaian/penjurian saat itu masih kalah dengan saat penilaian lonba di Angkasapura yg notabene latber regional. Saya berharap, Korwil Jakarta tetap konsisten melaksanakan sistem penjurian yg benar dan tegas sesuai dg AD-ART P3SI. Sehingga dapat menjadi tauladan/contoh utk pelaksanaan lomba di daerah lainnya. Karena saya ingin image lomba di ibukota Jakarta menjadi kawah candradimuka-nya perkutut-perkutut Nasional… Sosialisasi sistem penjurian yg telah dilakukan di Angkasa pura kmrn, mohon tetap dilakukan walaupun hanya melalui selembar kertas fotocopy-an di setiap even lomba di Korwil Jabodetabek. Demikian Mas Admin… semoga dapat menjadi masukan Korwil… Salam Kung Mania…

komentar :
Gus Bayu
Coba nangapin boleh dong …:
1.Awal kekrisuhan dalam setiap lomba yaitu:Juri penilai tidak seragam/menyamaratakan dalam mmemberlakukan persyaratan wajib bunyi pada setiap bloknya,contoh: Burung si A bunyi 1 kali diksh bendera tempe, bunyi 1 kali diksh bendera koncer, bunyi 1 kali lagi diksh bendera 2 warna, bunyi 1 kali lagi di ksh bendera hitam, sementara burung si B bunyi 1 kali dksh tempe, bunyi 2 kali di ksh Koncer 1 warna, bunyi lagi 3 kali dikasih 2 warna, bunyi lagi 4 kali dikash plus hitam, dan seterusnya. Nah, disini nampak jelas bahwa burung yg benar-2 mengikutin tata cara penilaian sesuai di ADART adalah burung si B. Pemandangan yg demikian ini sering kita jumpai, anehnya di masing-2 korwil berbeda-beda dalam penerapan jumlah banyak bunyinya. Sementara Pihak pengurus P3SI melihat keadaan ini membiarkan sehingga bola salju ini terus bergulir dan berkesan burung si A yg benar, karena ngikutin trend suara burung. Maaf sebelumnya nih, lama-2 peternak kita hanya sanggup mencetak burung bagus sekali(burung hanya mampu berbunyi bagus cuman 1 kali);
2.Pada dasarnya seorang mendapat gelar juri Nasional tersebut telah melalui seleksi yang ketat dan mempunyai jam terbang yg cukup lama, sebelum diangkat sbg juri,orang tersebut harus mengikutin tes sbg juri yg diadakan oleh P3SI di masing-2 Korda/Korwil, masa jabatan juri sesuai Ad/art dlm kenaikan jenjang juri hrs memiliki jam terbang selama 50 kali bertugas atau selama kurun waktu 3 tahun dan urut-2an nya yaitu : Juri YUNIOR, Juri SENIOR dan Juri NASIONAL. Utk mendapat gelar juri Nasional orang tersebut telah mengantongi jam terbang selama 9 Tahun. Jadi pada dasarnya semua orang juri yg telah memperoleh gelar Juri Nasional itu memiliki kemampuan, mental, nyali dan kecermatan serta kejelian pendengaran yang sama. Klo ada juri yg bertugas hanya itu-saja bukan berarti dia yg paling hebat, akan tetapi dia selama ini dimanjakan dengan sistim yg ada (sistim permintaan tugas, seharusnya kan bertugas berdasarkan rolling tugas dimasing-2 korda/korwil). Sebaliknya coba klo sesama juri Nasional yg lainya diberikan kesempatan yg sama, pasti mereka juga bisa dan mampu melaksanakan tgs sbg Juri Nasional.
3.Kita ini hidup dialam yg demokrasi 100 %. utk itu kita dituntut transparan dan fair play dalam berlomba, apabila peraturan-2 yg ada disosialisasikan kpd kung mania, Systim penilaian dibacakan pada saat seblm lomba dimulai, Insya Alloh keadaan akan berubah dan pasti kung mania lama yg selama ini dirugikan dng sistim lomba yg ada pasti akan turun berlomba kembali, demikian juga terhadap pendatang baru/pemula akan bangga karena sistim lombanya benar-2 fair play.
4. Pada prinsipnya Juri P3SI mempunyai kesamaan ilmu dalam menilai BP, Merah hitam nya P3SI, Sedikit banyaknya Kung Mania dan sedikit banyaknya peserta lomba serta kondusif atau tidaknya suasana lomba BP semua tergantung Pengurus P3SI Pusat, Korwil, Korda dan Subkorda. Trims.

Urun rembuk aja nih, menyimak ulasan-2 tsb diatas siapun Ketua Umumnya, siapapun Ketua Jurinya, Siapapun Ketua Korwilnya klo systemnya tdk dirubah maka akan begini-2 terus suasana lomba,sepanjang yg pernah saya lihat waktu membantu pengurus P3SI Pusat, pada umumnya setiap lomba Nasional/Besar sdh di seting sedemikian rupa olh oknum-2, dan hasil lomba endingnya seperti cerita-2 diatas, itu semua tergantung keberanian Ketua Juri selaku pennggung jawab penilaian bagaimana, klo dia manut-2 aja ama panitianya atau bahkan dia jg punya kepentingan didalamnya ya sdh selesai, tp klo dia punya strategi sendiri dan tdk bs diintervensi apakah dari Panitia, Peternak besar, atau dari juri-2 sendiri maka ending lombanya akan lain ceritanya dan cenderung obyektif. Saran jitu dari saya (agar tidak menyinggung perasaan atau menyudutkan siapapun juga)agar lomba dapat Fair play antara lain:
1. Penugasan Juri tdk berdasarkan permintaan panitia lomba, akan tetapi berdasarkan rolling tugas juri yg bersangkutan di daerahnya (jd kesanya yg bertugas tidak juri itu-itu saja orngnya);
2. Setiap juri yg sdh menyandang predikat Juri Nasional pasti kemmpuannya sama/selevel, utk itu setiap juri harus bs jadi apa saja (jadi Juri, Koordinator maupun dewan)sehingga secara tdk langsung akan terjadi trnsformsi pengalman-2;
3. Dalam pembagian tugas/penempatan sebagai juri(tgs di klas Dewasa Senior, Dws Yunior, sbg Koordinator,sbg dewan maupun sbg Juri)tidak berdsarkan ditunjuk oleh Panitia ataupun Juri Nasional yg dituakan,akan tetapi di Undi (contoh:si penembak jitu pelaksana hukuman mati semuanya mahir menembak, tetapi senjata yg diisi peluru tajam tsb dirahasikan dan senjatanya diundi/diacak,jd para penembak jitu tdk ada beban moral):
4. System peraturan lomba (pembagian tugas juri dst, urut-2 bendera penilaian, wajib banyaknya bunyi burung, termasuk prosedur komplen)diumumkan terlebih dahulu sebelum lomba dimulai (klo diumumkan pasti peserta akan memahami dan akan menerima apaun hasil lomba);
5. Umumkan penonton tidak boleh teriak-2 yg tidak sopan dan tidak boleh menyebut nomer gantangan, nama juri penilai dll);
6. Selesai tugas para juri harus tetap berada ditempat yg steril sampai selesai perekapan dan pengumuman urutan kejuaraan;
Demikian urun rembuk saya, semoga para petinggi P3SI (Pusat, Korwil dan Korda) membaca wibe site ini dan dapat dijadikan pertimbangan lebih lanjut demi kebaikan dan kejayaan P3SI dan Kung Mania se Indonesia, semoga …

Komentar :
Agung Eraska
Memang sih waktu itu saya ada di Lapangan Lomba,apa yang di utaraka Admin bener 100%, cuma bahasanya di perhalus,he…he…..,sekarang kita mau ngomong apa,Protes keras di lapangan sudah saya lakukan,protes ke pengurus pusat juga sudah,hasilnya apa…..saya malah dimusuhin oleh beberapa peternak…tapi saya cukup bebesar hati karena di DKI dan jabar respon cukup bagus,saya angkat topi dan masih punya harapan bahwa main perkutut kalau mau juara tidak perlu harus…punya duit banyak yang penting burung berkualitas sesuai aturan AD/ART ,juga tidak harus jadi pengurus pusat…..,sehingga juri nasional yang selalu jadi dewan juri nurut dengan kita,sebenarnya kita juga tahu masalah utama kenapa lomba besar/nasional selalu ricuh,terlihat tidak adil…karena masalah yang paling pokok adalah dewan juri dan kordinator,orangnya ya itu itu aja….yang notebene kartunya sudah sama sama kita tahu sehingga hasilnya akhirnya sama ama tahulah……kasian pak Ketua Umum kalau begini…disatu sisi kalau kita dengar tiap lomba Besar/Nasional kalau arahannya diikuti semua juri dan semua yang terlibat dalam lomba dan peserta tentunya hasilnya pasti JurDil,tetapi dibelakang Pak Ketua Umum banyak kejadian yang berlawanan dengan yang diutarakan oleh Pak Ketua Umum,mungkin imbauan untuk korwil korwil yang mau ngadain lomba besar/nasional jangan lagi pakai Dewan juri yang itu itu aja pasti dijamin rasanya aneh bin ajaib…..,Beranilah untuk memakai dewan juri dan kordinator dari juri nasional masing masing korwil ……

Komentar
Teratai bf
seru juga nih pembahasanya…..memang membicarakan lomba kutut nggak hebring kalo nggak “nyentil” penjurian, kita tidak pungkiri kalo penilaian dilomba-lomba seperti perkutut ini tidak lepas unsur subyektivitas, lain dgn adu ayam ataupun merpati balap….namun itupun nggak boleh menjadikan alasan agar kekurangan2 yg muncul bisa dimaklumi, takutnya justru dijadikan jalan untuk menghalalkan kecurangan2 yang ada….bagaimanapun pedoman penilaian jelas sudah diatur diad art. bukanya bermaksud memaklumi kinerja juri yg cenderung mengabaikan ad art yg sudah disusun rapi baik itu kata-katanya maupun penulisanya, namun saat memberikan penilaian dilapangan namun kondisi burung sekarang sangat tidak memungkinkan untuk diajak menyesuaikan ad art yg mana menuntut harus 7-8 kali bunyi bagus tanpa salah dan turun kualitas, sy kira memang idealnya seperti yg sudah disepakati diad art,…. kembali lagi asalkan tidak menguntungkan satu kelompok atau perorangan menurut kami penilaian yg menyimpang dari ad art tersebut masih dalam koridor bisa dimaklumi asalkan juara nya memang yg terbaik saat itu bukan juara jadi-jadian…., bicara kekurangan juri saat menilai dilapangan bagaimanapun pernah menguntungkan kita ( maaf ..karena kita semua pernah lomba) walaupun tidak sering pasti burung kita pernah diuntungkan oleh juri ( yg sy maksud penilaian yg tdk dianggap sesuai ad art) hanya kekurangan kita pemain kutut diindonesia disaat keteledoran juri cenderung menguntungkan diri sendiri (burung kita) kita berdiam diri pura-pra nggak melihat kesalahan juri namun disaat burung kita dirugikan kita teriak/komplain seakan2 kita habes dirampok…..(dan kalo nggak mengakui ini kita nggak dewasa), kenapa jurinya hanya itu-itu saja sy rasa bukan salah jurinya…tapi tanyakan penggurusanya adakah juri nasional yg lebih mampu selain yg saat ini ada…kalo yg senior nggak mampu apalagi yg junior?? apa punya nyali??, seinggat saya u dewan juri nasional hanya , si a, si b, si c dan si d…nggak ada lagi biarpun lombanya mesti ke papuan pasti hanya mereka yg diturunkan karena nggak ada lagi…??? nah disini tugas dari semua penggurus baik itu korda, korwil, maupun pusat…sy setuju penerapan ad art dimaksimalkan namun bagaimana dengan sdm nya ada tidak???? korwil sudahkah meremajakan juri untuk mengatasi problema juri….setahu saya bkn masalah mudah mengkader juri baru jd jgn heran kalo setiap lomba ketemunya juri yg sama…tinggal pilihanya turun lomba siap kecewa atau tidak lomba biar nggak kecewa….bukan saatnya menghakimi tapi sebaikny sama2 mencari solusi dari “benang ruwet” tadi, bagi yg merasa penggurus saatnya menunjukan kapabilitasnya sebagai pengurus bagi pemain sook…sumbang saran demi kemajuanya tetap diperlukan….bukan apa-apa kita takutnya hal hal yg demikian akan “menakuti” pemain baru untuk gabung diperkututan. so..enjoy…maaf urun rembug begini sangat bagus dan harus disikapi dgn hati yg arif…ewako…perkututan indonesia

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: