//
you're reading...
Wacana

KILAS BALIK FLU BURUNG

perkutut DKi dot com
Kilas balik 23 Februari 2006

<periode P3Si 2003 – 2006 merupakan periode yang sangat sangat berat, bagi kungMania, peternak, pedagang demikian juga dengan Pengurus P3SI saat itu. Namun dengan Kepemimpinan yang sangat baik, di daerah, di wilayah sampai Pusat, kita bisa berbangga, tidak ada satupun event Regional maupun Nasional yang terbengkalai. Dengan uraian tersebut,sudah selayaknya kita semua menjaga keutuhan P3Si yang kita cintai ini, sebab berbagai badai pernah mengguncang organisasi pelestari burung tertua yang dimilki bangsa indonesia, antara lain pemberhentian lomba pada tahun 1980 an. Untuk itu semua, sekedar mengingatkan kita semua, bahwa kepedulian Pengurus pusat pada saat itu sampai2 menggelar pers confrence, berikut cuplikannya.

Jakarta, (ANTARA News) – Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) menolak rencana Pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan pemusnahan unggas secara massal yang akan dilakukan pada unggas yang berada dalam radius satu kilometer dari lokasi unggas yang positif terinfeksi virus flu burung (Avian Infleunza/AI).

Sekretaris Jendral P3SI Djoko Saksono SH, di Jakarta, Kamis (23/2) mengatakan pihaknya tidak keberatan bila unggas yang positif terinfeksi virus flu burung dimusnahkan.
“Tapi kalau unggas yang berada dalam radius satu kilometer dari unggas yang terinfeksi juga dimusnahkan kami tidak setuju karena sebagai pelestari mendengar kata pemusnahan saja kami sudah ngeri,” ujarnya.
Dana kompensasi yang akan diberikan pemerintah kepada warga yang unggasnya dimusnahkan pun, kata dia, tidak masuk akal.

Senada dengan Djoko, dalam siaran pers P3SI yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, Ketua P3SI Mayjen TNI (Pur) Drs Rudjiono juga menyatakan bahwa dana kompensasi sebesar Rp10 ribu per ekor unggas yang dimusnahkan tidak bisa menutup biaya investasi yang telah dikeluarkan penangkar perkutut.
Ia mengatakan dalam hal ini pemerintah tidak boleh bertindak semaunya sendiri dengan menetapkan besaran Rp10 ribu sebagai kompensasi tanpa merujuk peraturan perundangan yang berkaitan dengan peternakan dan kesehatan hewan.
Menurut dia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6/1967 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 487/1981 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Menular, ganti rugi pemusnahan ternak seharusnya dilakukan sesuai dengan umur dan standar harga unggas yang berlaku saat pemusnahan dilakukan.
Selain itu, kandang dan peralatan yang dimusnahkan juga harus mendapat penggantian.
“Jika benar-benar ingin didukung agar berhasil menanggulangi flu burung Pemda DKI sebaiknya tidak bertindak setengah-setengah, terutama dalam penyediaan dana,” kata Rudjiono.
Hal itu perlu dilakukan karena menurut dia komunitas penangkar, pedagang dan penggemar perkutut di DKI Jakarta cukup besar.
Menurut dia, saat ini P3SI memiliki sekitar 200 anggota yang terdiri atas penangkar, pedagang dan penggemar perkutut dan jumlah burung yang mereka pelihara lebih dari satu juta ekor perkutut.

Terkait dengan hal itu sebelumnya Ketua Tim Tanggap Darurat Penanggulangan AI Departemen Pertanian Delima Hasri Azahari mengatakan bahwa untuk sementara pemerintah hanya akan memberikan kompensasi Rp10 ribu per ekor unggas yang dimusnahkan.
Menurut dia hal itu dilakukan karena dana yang dimiliki pemerintah untuk keperluan itu memang sangat terbatas.

“Kalau penggantiannya besar kita juga takut akan terjadi penyalahgunaan, misalnya unggas yang seharusnya tidak perlu dimusnahkan ikut dimusnahkan untuk mendapatkan penggantian,” ujarnya.
Namun menurut Delima, pemerintah dan tim ahli sedang meninjau kembali dan melakukan pengkajian untuk menetapkan besaran kompensasi yang tepat dalam pemusnahan unggas yang dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus flu burung.(*) 

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

2 thoughts on “KILAS BALIK FLU BURUNG

  1. Info terbaru dari Pontianak Kalbar, bahwa jadwal lomba nasional bulan Juni 2010 batal dilaksanakan dan diambil alih oleh Korwil/Korda Solo utk pelaksanaannya. Kegagalan pelaksanaan lomba di Pontianak kalbar disebabkan krn sudah terbitnya Perda Prop. Kalbar yang menyatakan bahwa Kalbar bebas Flu burung, shg peredaran unggas apapun yg berasal dr luar Kalbar dilarang masuk wil. Kalbar. Akibat langsung yg terjadi saat ini adalah mahalnya harga daging ayam Ras (dr harga 15000-17000 /kg, sekarang mencapai 26000-28000 /kg), ini disebabkan krn produksi DOC di Kalbar tidak mencukupi, sementara suppliyer dr luar kalbar tidak dapat lagi memasok DOC ke Kalbar. Hal ini, menurut hemat saya sangat merugikan masyarakat Kalbar pada umumnya. Demikian info dr saya. Semoga bermanfaat bagi Kung Mania Indonesia….

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | June 5, 2010, 12:30 am
  2. tks Mas Kunto atas info yg sangat bermanfaat, diteruskan

    Posted by noe | June 5, 2010, 9:48 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: