//
you're reading...
Wacana

DUA WARNA PLUS YANG MENGGODA


Usulan Jabodetabek di Munas 13-14 Nov 2009, gagal??
Tarik menarik berbagai kepentingan akan keberadaan bendera hitam untuk nilai 43 plus (43 1/4), membuat Korwil Jabodetabek melakukan evaluasi yang mendalam, kesimpulan akhir mengenai bendera hitam  ini kurang menggembirakan, sebab banyak pemain maupun pemula yang merasa “dipuaskan” oleh kualitas burung yang sebenarnya hanya berkatagori cukup. Berdasar evaluasi tersebut selanjutnya segenap pengurus Korwil memperjuangkannya  pada Munas P3SI.
Usulan  penghilangan bendera hitam (nilai 1/4) atau nilai 43 1/4 (2 warna plus), didasarkan pad hal2 sebagai berikut :

Alasan perubahan  / penghilangan bendera hitam :
1. Penggunaan angka ¼ membuat perbedaan yang sangat tipis antara burung berkualitas cukup, bagus atau istimewa
2. Dengan adanya bendera hitam (1/4) greget burung istimewa (3 warna keatas) semakin hilang
3. Dengan bendera hitam memberikan harapan semu pada peserta yang memiliki burung dengan kualitas 2 warna. Hal ini   tentunya membuat teriakan terikan permintaan semakin menjadi jadi.
4. Hal yang sangat penting adalah kontrol terhadap burung yang berkualitas 3 warna keatas semakin ketat.
5. Fokus dalam tugas koordinator dan dewan juri untuk menilai burung berkualitas istimewa mejadi semakin baik.
6. Dengan adanya bendera hitam, frekuensi gerakan  juri serta penancap bendera semakin banyak, hal ini tentunya membuat kinerja burung menjadi kurang.
7. Fenomena yang berkembang saat ini, burung dengan kualitas 43½  (3 warna) sama sekali tidak menarik, yang pada akhirnya menjatuhkan nilai jual. Sebab pemain sudah merasa puas hanya dengan memilki burung dengan kualitas 43¼ (2 warna plus)

8. Demikian juga apabila dikembalikan pada pakem penilaian keindahan suara perkutut, dimana  dalam 1 (satu) kriteria bunyi selalu dinyatakan dalam 3 (tiga) unsur dan di setiap unsur nilai tertingginya adalah 3 (tiga) , misal suara tengah (bertekanan=3 Jelas=3 Lengkap=3 total=9). Pertanyaannya “bagaimana merumuskan nilai 1/2 atau bahkan 1/4” , katakan suara tengah mengambang tidak bertekanan tapi jelas dan lengkap  maka nilai yg diberikan=> bertekanan-2 jelas=3 lengkap=3 total=8). Dengan uraian ini jelas sangat sulit merumuskan nilai 1/2 apalagi dengan 1/4. Memang bisa dirumuskan sampai perdecimal, tapi dalaam waktu yg singkat dan burung yg sangat banyak, apa mungkin????.

SEDIKIT MENGENAI perjalanan bendera hitam dalam “KOMISI PENJURIAN” DI MUNAS

Pada saat sidang komisi yang digelar pada  jumat malam menghasilkan “penghilangan” bendera hitam untuk nilai 43 1/4. Bendera hitam hanya dapat dipergunakan pada nilai 3 warna  (43 1/2) ke atas. Namun apa yang terjadi sangat mengejutkan, pada malam minggu tepatnya dalam sidang paripurna, keputusan di komisi C ini di “floor” kembali di dalam sidang serta dilakukannya voting yg pada alhirnya memutuskan untuk menggunakan bendera hitam kembali pada seluruh tingkatan nilai.

kekonyolan yg sangat dipertanyakan adalah “lalu apa gunanya sidang komisi”, padahal tenaga uang pikiran sudah kita curahkan demikian besar. Akan tetapi sebagai anak bangsa yang menjunjung sopan santun, segenap pengurus Korwil Jabodetabek tetap menerima seluruh keputusan yang dibuat dalam Munas 2009 lalu.

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

One thought on “DUA WARNA PLUS YANG MENGGODA

  1. Menurut hemat sy, penambahan nilai 1/4 (seperempat) sangatlah “tepat” dan meringankan beban juri agar mudah membedakan mana burung yang asli 2 warna saja dengan burung yg 2 warna lebih tapi 3 warna kurang, contoh: Burung memiliki nilai maksimal 3 warna, sementara peersyaratan bunyi utk 3 warna harus berbunyi 5 kali berturut-2 tanpa pengurangan kualitas suara yg seharusnya, Kenyataannya burung setiap berbunyi 5 kali berturut-2 ternyata yg memenuhi syarat kualitas hanya 2 atau 3 kali saja, berbunyi kembali masih itu-2 saja dan seterusnya, maka burung tersebut layak mendapat nilai tambah 1/4 saja, demikian juga utk kualitas burung yg 4 atau 5 warna. Kenyataan dilapangan kan berbeda-beda2, ada Juri yg menerapkan nilai 1/4 sebagai nilai tahapan, sehingga berkesan berat banget utk mencapai nilai maxsimal sampai 5 warna. Saya sangat setuju klo nilai 1/4 diberlakukan “sebagai tahapan” bagi burung “Piyek” saja, dengan pertimbangan: Persyaratan bunyi utk burung Piyek adalah 1 kali, contoh: Burung secara kualitas layak utk nilai 3 warna, akan tetapi burung hanya berbunyi 1 kali (tempe), 1 kali (koncer), 1 kali (2 warna) 1 kali lagi (2 Warna plus), terus burung tdk berbunyi, atau berbunyi lagi nutut-2 aja, bunyi lagi ndorong-2 aj dan seterusnya. Menurut pemikiran saya sebagi Juri Senior yang udah bulukan ini, kayaknya sebagus bagusnya burung perkutut pada dasarnya hanya 3 warna (nilai standart burung bagus), nah dari 3 warna tersebut disaring, dibanding-bandingkan mana yg memenuhi syarat kualitas diatas 3 warna dan memenuhi syarat bunyi utk dinaikan menjadi 4 warna sampai maximal nilai burung. Nah permasalahannyanya kan kualitas suara burung pada saat lomba, baik kualitas maupun persyaratan bunyinya maximal hanya mencapai 3 warna saja. Jadi tdk perlu dipaksakan utk menjadi 5 warna dengan pertimbangan supaya pasaran burung naik, lomba perkutut jadi ramai dan seterusnya. Kira-2 demikian komentar dan pemikiran saya Bapake Nugroho … Tq.

    Posted by Gus Bayu | June 9, 2010, 3:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: