//
you're reading...
Berita Bird Farm

BINTANG TIMUR

perkutut DKI dot com

kilas balik
IMP bird farm

Bintang Timur, H.Basuni Becak, Tempo 13 agustus 1988

ORANG boleh tak percaya. Bangkrut sebagai pedagang kayu. Pada 1971 Basuni jadi penarik becak.
Ia tinggal di rumah kontrakan. Kini, ia memiliki rumah gedung di Jalan Bulak Rukem Gang II Surabaya. Selain tiga mobil, ia juga punya sebuah vila di Batu, Malang.
Ia dapat undian TSSB/KSOB ?
“Tuhan mengubah nasib saya lewat perkutut,” kata ayah tiga anak yang tahun ini baru naik haji itu.

Lelah mengayuh bccak dua tahun, pada 1976 Basuni menyeberang ke Malasia. Ia jadi kuli batu. Tapi selama di sana, ia sempat membeli seekor perkutut jantan di Bukit Permai dekat perbatasan Muangthai. “Harganya 300 ringgit,” tutur Basuni pada Zed Abidien dari TEMPO.

Setelah membawa pulang perkutut itu ke Surabaya, 1977, lalu ia mengawinkannya dengan perkutut betina yang dibelinya dari Pasar Babakan. Dari persilangan itu lahirlah perkutut andalan. Seekor anak perkutut yang hidup satu di antara tujuh telur yang ditetaskannya malah laku Rp 400 ribu.
Dari uang itu lalu ia beli tanah seluas 120 m2. Bangunan megah yang sekarang di atas tanah tersebut juga ia bangun dari hasil menjual perkutut.
Kini ia mampu mengembangkan usaha menangkar perkutut dengan baik. Di halaman rumahnya yang sekarang banyak sangkar berisi perkutut. Di tempat mengawinkan perkutut Malaysia dengan perkutut lokal ia buatkan kandang berukuran 60 cm x 130 cm. Untuk menyejukkan lingkungan perkutut, di bawah kandang pembiakan itu dibuatnya parit yang ditaburinya induk-induk Nila. Ikan-ikan itu sekaligus pemakan kotoran burung itu yang jatuh ke parit. Dan itu sebagai sekali dayung dua rezeki masuk kantung. Ia memilih Nila, karena 20 induknya mampu menghasilkan 5 ribu anak dalam sebulan. “Lebih untung memelihara Nila ketimbang beternak lele,” ujar Basuni.

Kini eksperimennya mengembangkan burung merak. Bintang Timur H.Basuni Becak, tempo 13 agustus 1988
Tapi yang terkenal adalah perkututnya.

Setelah tiga hari menetas anak burung itu diberi cincin di salah satu pergelangan kakinya, dengan trade mark “Basuni”. Menurut Sukir, seorang dari dua perawat perkutut yang bekerja pada Basuni, harganya seekor berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. “Dalam sebulan Pak Basuni bisa menjual sekitar 100 perkutut,” kata Sukir. Perkutut Basuni yang paling mahal, Bintang Timur namanya, pernah ditawar Rp 40 juta.

“Belum saya berikan, habis bagus, sih,” ujar Basuni. Pamor si Bintang kian meningkat setelah sering juara di arena lomba tarik suara. Misalnya ketika adu tanding di Jember, Purwodadi, Tegal, Surabaya.

Basuni, 49 tahun, lulusan SMP. Dan cita-citanya yang menunggu: ia mau membangun “monumen becak” di halaman rumahnya.

sumber berita : tempo online

 

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: