//
you're reading...
Liputan Lomba

SUSI SUSANTI SANG LEGENDA

NAMANYA Susi Susanti. Asalnya Tasikmalaya, Jawa Barat. Dulu rajin bertanding dan selalu tampil sebagai juara. Dan jangan salah, sang primadona ini berkelamin jantan. Juga, walaupun sama-sama tersohor, Susi yang ini bukan atlet bulu tangkis, melainkan seekor perkutut.

Di kalangan penggemar perkutut se-Tanah Air, burung milik Haji Muhammad Huzaini ini tergolong legendaris. Selama tiga tahun, 1995-1998, Susi selalu memenangi lomba perkutut di berbagai kota. Banyak penggemar perkutut mengakui Susi sebagai juara sejati. Suara kicaunya demikian sempurna. Suara depan, tengah, dan ujung (“kur-kete-kung”) terdengar melantun panjang, merdunya bukan alang kepalang. Lantaran tak ada burung yang mampu mengalahkannya, Susi lalu tak diperbolehkan bertanding. Pernah ia hanya di-kerek ke atas tiang, hanya untuk sekadar dipamerkan oleh panita lomba perkutut. Soalnya, peserta yang lain tak mau bertanding karena tak mampu bersaing melawan Susi.

Pemilik Susi, Haji Muhammad Huzaini, pantas merasa bangga. Burung bernama latin Geopelia Striata itu telah membawanya bangkit dari keterpurukan. Pria Madura ini semula berprofesi sebagai pedagang besi tua dan angkutan yang cukup beken di Kota Surabaya. Omzet usahanya mencapai miliaran rupiah. Tapi, pada 1990, ia jatuh bangkrut. “Saya di-tipu. Uang saya nyantol Rp 6 miliar dan belum dibayar sampai sekarang,” ujarnya mengenang. Padahal, utangnya menumpuk di bank. Tak ayal lagi, rumah, tanah, dan mobilnya disita. Huzaini pun merasa stres berat.

Lelaki berkulit hitam yang dulu sibuk bekerja itu kerap tampak tercenung dan melamun. Dalam keadaan terpuruk seperti itu, kerabatnya dari Bangkalan, Madura, memberinya dua ekor perkutut. “Untuk obat stres,” kata Huzaini menirukan pesan kerabatnya itu. Mula-mula perkutut itu tak dirawatnya, bahkan nyaris mati karena tak diberi makan. Tapi, sekali waktu, telinganya mendengar suara kicauan indah khas perkutut. Rupanya, burung yang selalu diam itu mulai unjuk kebolehan. Huzaini terenyak. Tengkung suara perkutut membuat hatinya tenteram. Sejak saat itulah ia mulai tertarik kepada perkutut. Gara-gara perkutut pula Huzaini berubah total. Stresnya hilang dan ia bisa tidur nyenyak.

Biasanya ia baru terbangun pukul 08.00 pagi, tapi berkat kicauan perkutut, Huzaini bangun subuh. “Begitu mendengar kicau perkutut, saya bangun, beribadah, dan merawat mereka,” tuturnya. Selanjutnya, ia mulai berburu dan beternak perkutut. Istrinya, Nyonya Siti Khodijah, mula-mula tak senang dengan hobi baru Huzaini. “Pikiran Ibu, ya, buang-buang duit saja. Apalagi saat itu sedang susah,” ujar Muhafi, anak Huzaini. Belum lagi kotoran perkutut yang berceceran di lantai. Acap sang istri menumpahkan kekesalannya. Bahkan, tak jarang ia menggampar perkutut di sangkar dengan sapu, seraya tak habis-habis menggerutu. Tapi, lama-kelamaan, hati Ny. Siti Khodijah luluh juga, apalagi setelah hobi baru itu mendatangkan hasil. Kandang penangkaran Huzaini mulai melahirkan bibit-bibit unggul. Se-belum punya Susi, ia memiliki dua jagoan: Mia Audina dan Damarwulan.

Adapun Susi, yang diperoleh dari perburuan di Tasikmalaya, membuat peternakannya, yang diberi nama IBM Bird Farm-kepanjangan dari Indonesia Bagian Madura-semakin populer dan diperhitungkan. Itu berarti uang kian deras mengalir ke koceknya. Rezeki terutama datang dari anak-cucu Susi, yang laku dijual Rp 5 juta-Rp 100 juta per ekor. Soalnya, keturunan Susi mewarisi kicau emas biangnya. Kini, dari peternakan berisi 750 ekor perkutut itu, Huzaini meraup omzet Rp 100 juta-Rp 300 juta sebulan. Tingkat hidupnya pun membaik. Rumah, tanah, dan mobil kembali dimilikinya. Huzaini bahkan membangun supermarket tiga lantai di atas tanah seluas 600 meter persegi yang diberi nama IBM Swalayan. “Supermarket itu menghabiskan Rp 4 miliar, yang saya peroleh dari be-ternak perkutut ini,” ujarnya. Susi yang unggul itu menjadi maskot peternakan Huzaini. Suaranya tetap stabil dan indah (suara perkutut kabarnya tetap bagus hingga usia 8-10 tahun). Tawaran membeli Susi datang bertubi-tubi, sehingga harganya naik, dari Rp 1 miliar kemudian jadi Rp 2 miliar. Pembelinya? Ada saja. Dua bulan lalu, ada orang dari Darmo-kawasan elite di Surabaya-menawar Rp 3,5 miliar (us $ 35,000 ). Toh, Huzaini tetap tak mau melepasnya. “Susi tak saya jual, berapa pun harga yang ditawarkan,” katanya. Harga Susi itu berarti enam kali lipat harga rivalnya, Misteri Bahari-milik Gunawan Andi, peternak perkutut di Cirebon-yang pernah ditawar Rp 625 juta. Rezeki Huzaini dari perkutut tampaknya belum akan terhenti.

Kini, ia memiliki jagoan baru. Namanya: Reinkarnasi. Pekan lalu, burung yang adalah cucu Susi Susanti itu memenangi lomba perkutut tingkat nasional di Blora. Reinkarnasi sebelumnya telah menjuarai 16 perlombaan di berbagai kota. Bila tak lagi memiliki lawan, mungkin boleh juga suatu hari Reinkarnasi diadu melawan kakeknya. Kur…kete… kuuung…. Nugroho Dewanto, Adi Sutarwiyono (Surabaya)

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: