//
you're reading...
Liputan Lomba

HB CUP Yogya, 1987

perkutut DKI dot com

PERKUTUT. Inilah burung istimewa yang konon mampu menaikkan kesenangan dan gengsi banyak pria hingga sangking edannya, ada yang terlupa pada keluarga. Dan tentang perkutut atau geopelia-striata nan bertuah itu, betapa dia kini jadi penting, sampai orang perlu bikin seminar sehari di Fakultas Peternakan UGM, 8 Agustus lalu. Kontesnya kemudian berlangsung esok hari, di Alun-Alun Kidul, sisi selatan Kraton Yogya. Adalah sebuah atraksi tersendiri, ketika lebih dari 100 ekor burung itu dikerek di sana, masing-masing menegangkan urat untuk mengeluarkan koong. Huur-ketekungng …. Begitu bunyi di bawah udara terbuka. Burung-burung itu tegak mengerahkan tenaga, menggetarkan selaput suaranya untuk unjuk diri.

Kontes kali ini tampaknya lebih marak ketimbang tahun lalu. Bukan seperti kontes kontes burung berkicau, misalnya pada 1979 yang diharamkan dulu, sekarang tak ada larangan dari Menteri Negara KLH Emil Salim atau sang aparat. Kali ini semangat dan slogan yang dikerek panitianya juga seperti tak mau kalah memikatnya dengan koong si burung. Nyam-nyam, tema seminarnya yang juga membikin kening berkerut berbunyi: “Burung Perkutut dan Masalahnya dalam Rangka Pelestarian Lingkungan dan Kebudayaan”. Dan itu diadakan untuk menyambut Lomba Burung Perkutut Tingkat Nasional, siapa yang menang nanti akan meraih Piala Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Luar biasa. Nama kebudayaan dan Sri Sultan kini dilibat untuk dan penampilan burung. Yang beruntung pada 9 Agustus itu adalah si Atlantik, milik Aing dari Semarang merebut piala bergilir itu. Atlantik mewakili kelompok bebas. Juara pertama dari kelompok lokal adalah Putra Daud milik H.M. Thohir Surabaya.

Pesertanya dari Jakarta, kota-kota besar di Jawa, Madura dan Bali. Perebutan piala Sultan itu diadakan tiap dua tahun sekali. Bobot perkutut, dalam kehidupan sehari-hari, ikut mempengaruhi mesra atau cemplang-nya hubungan suami-istri. Untuk mengibarkan kebanggaan si burung, seorang suami mau tak mau mesti didukung istrinya. Dengar, apa kata Soeroso P.S. Ia seorang penggemar perkutut dari Blunyah Gede Yogya. “Harus sabar dan telaten merawatnya. Jangan sampai istri mengomel melulu. Misalnya, lantaran lantai kotor gara-gara tai perkutut,” katanya. Soeroso, 64 tahun, pensiunan pegawai Kantor Dinas Pertanian Kodya Yogya kabarnya memang fanatik. Perkututnya ratusan ekor. Tetapi si Laras dan Lintang, dua dari beberapa yang dibanggakannya, memang dijagokan pada kontes di alun-alun itu. Bahkan Lintang, yang pernah menang ketika adu suara bagus di Bekasi, Jakarta, Semarang, dan Yogya beberapa waktu lalu sudah ditawar orang Rp 8 juta. Ia tolak. Bagi Soeroso, perkutut tak melulu didengar suara huur-ketekungng-nya. Juga ada nilai lain yang dianggapnya tak kalah penting. “Pergaulan saya bertambah luas karena perkutut,” ujarnya yang juga didampingi juri senior Soekirdjo Prawiro asal Yogyakarta saat wawancara dilakukan.

Untuk memahami canang adab yang dibangkitkan si perkutut, simak pula Purbosasmito. Empu dari Kotagede Yogya ini mengutip petuah yang lazim di lingkungan kehidupan keluarga Jawa. Syarat sebagai lelaki Jawa sempurna, katanya, ia harus memiliki isma (rumah), garwa (istri), turangga (kuda, maksudnya kendaraan), cunga (keris), dan kukila (ya, perkutut itu). Mengapa perkutut? “Suaranya merdu seperti Gamelan Lokananta, gending yang membahana di angkasa,” kata Purbosasmito. Masih menurut beliau, “nilai-lebih” perkutut makin tinggi jika usianya bertambah, karena telah berkemampuan. “Dan memberi hasil tambahan, kalau kita berniat menjualnya, karena suaranya sudah lebih merdu,” katanya. “Perkutut ada juga yang mempunyai sawab atau tuah, bak sebilah keris pusaka, kuda, atau batu akik.” Kepercayaan seperti tersebut rupanya bukan saja monopoli orang Jawa di pedalaman. Di pesisir Jawa Tengah, seperti di Batang, pernah ada seorang pemilik kapal nelayan bermesin, yang bisa tahu rezekinya di laut berdasarkan gerak burungnya. Jika si perkutut manggung atau ber-huur-ketekungng berkali-kali ke arah utara, laut, firasat si nelayan tadi memberi makna: hasil ikan akan melimpah. Alias rezeki bagus. Jelas sudah. Karena bobot budaya dan pengaruhnya pada masyarakat, terutama Jawa, lalu Sri Sultan menyediakan piala untuk kontes tingkat nasional seperti sudah disebut. Jika kemudian seminarnya diselenggarakan di Fakultas Peternakan, ini semua karena panitianya sadar. Syahdan perkutut yang nyaris jadi makhluk ajaib ini adalah unggas atau ternak jua namanya.

Di atas meja seminar kemudian bisa dikutip pendapat, misalnya dari Nasroedin. Dosen pada Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan UGM itu berkata, “Perkutut umumnya hidup di dataran rendah berhutan jarang.” Habitatnya meliputi kawasan Tiongkok Selatan, Laos, Birma, Vietnam, Muangthai Malaysia, Papua Nugini, Australia, dan Indonesia. Sesuai dengan sifatnya yang gemar bermandi cahaya matahari, sebenarnya perkutut seperti meniru kebiasaan para turis bule. Dan kini walau nyaris jadi “simbol status” dan lambang kelengkapan seorang lelaki sejati, justru perkutut tak cenderung berpoligami. Bukan seperti pembawaan alamiah seorang pria yang perkasa. Demikian suara lain dari seminar Yogya itu. Tapi lain kalau sudah bercintaan dan melakukan reproduksi (senggama). Seekor perkutut jantan akan mulai sibuk sejak dari penyiapan sarang bertelur untuk si induk, mengerami telur, dan menyediakan makanan, sampai menjelang si anak bisa terbang sendiri. Sementara itu, ia tak akan main selibat dengan betina lain. Seminar yang juga membahas penangkaran burung berbulu seperti lurik abu-abu itu dihadiri sekitar 100 penggemar tak bersarung. Berbekal sebuah keyakinan, paling tidak, begitu dikatakan oleh Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Soeharto Prawirokusumo, “Perkutut berkait dengan nilai-nilai budaya, mulai dari Brawijaya V sampai Mataram dan Surakarta. Serta nilainilai ekonomis.” Bravo perkutut. Huur-ketekuuungng. Mohammad Cholid Laporan Slamet Subagyo (Biro Yogya)

🙂

sumber : majalah tempo

About nugroho1705

piye kabare bro

Discussion

One thought on “HB CUP Yogya, 1987

  1. Wah…menarik sekali histori perkutut di Yogjakarta… ternyata hal inilah yang menjadi magnet ” Piala Raja ” di Jogja. Alhamdulillah…Kunto sangat bersyukur tentang hal ini, krn kebetulan Kunto lahir dan besar di Yogyakarta. Perkutut menjadi Icon Yogyakarta, semoga atmosfir Yogyakarta yang berhati Nyaman menjadi motivasi Kung Mania Indonesia.

    Posted by Kunto-Tirta Jaya BF | June 15, 2010, 9:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

daftar tulisan

%d bloggers like this: